Terbukti Gagal, Tim Ekonomi SBY-JK Layak Diganti
Jumat, 26 Agu 2005 17:17 WIB
Jakarta - Masyarakat Profesional Madani (MPM) meminta SBY-JK segera melakukan pergantian (reshuffle) tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu karena terbukti gagal.Hal ini disampaikan oleh Bini Buchori yang mewakili MPM dalam pernyataan bersama di Hotel Sahid, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (26/8/2005).Menurut Bini, setelah sepuluh bulan pemerintahan SBY-JK, ekonomi Indonesia terus mengalami kemerosotan. Bahkan, lanjutnya, berpotensi menjurus ke arah perkembangan yang membahayakan bagi kehidupan sosial-ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.Dalam kesempatan itu MPM membeberkan lima fakta memburuknya perekonomian Indonesia. Pertama, tiga motor ekonomi dalam produk domestik bruto (PDB) yaitu konsumsi swasta, investasi riil dan ekspor mengalami perlambatan pertumbuhan. Kedua, kesejahteraan merosot yang ditandai dengan penurunan daya beli masyarakat golongan menengah ke bawah karena terjadinya inflasi dan peningkatan pengangguran terbuka. Ketiga, indikator finansial seperti nilai tukar rupiah, suku bunga dan inflasi yang merosot. Keempat, terjadinya kelangkaan sejumlah kebutuhan dasar seperti BBM dan listrik. Kelima, ekspor dalam PDB mengalami penurunan pertumbuhan yang tajam dari 17,1 persen pada kuartal III-2004 menjadi hanya 7,3 persen pada kuartal II-2005.Lebih lanjut Bini menyatakan, berbagai gejala memburuknya ekonomi Indonesia itu yang semula temporer dan situasional, tetapi akibat kelemahan dalam pengelolaan ekonomi dan komunikasi tim ekonomi yang saling kontraproduktif, akhirnya mulai mengganggu fundamental ekonomi.Selain itu, MPM juga melihat sebagian menteri pada tim ekonomi masih terus melakukan kegiatan yang kental dengan nuansa conflict of interest. Oleh karenanya MPM meminta pemerintah SBY-JK untuk tidak mempertahankan para pejabat dalam tim ekonomi yang jelas tidak mampu dan penuh conflict of interest.MPM menilai kemerosotan ekonomi ini tidak bisa ditangani secara konvesional lagi bila pemerintah tidak ingin mengulangi krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997-1998. Gejala yang terjadi sekarang ini, kata Bini Buchori, sama persis ketika Indonesia akan mengalami krisis pada tahun 1997-1998.
(san/)











































