Impor Migas Bikin Neraca Dagang Tekor Lagi

Impor Migas Bikin Neraca Dagang Tekor Lagi

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 16 Nov 2018 07:18 WIB
Impor Migas Bikin Neraca Dagang Tekor Lagi
Ilustrasi kapal tanker. Foto: Reuters/Hani Amara
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit di bulan Oktober. Kali ini nilainya US$ 1,82 miliar.

Defisit terjadi karena impor Indonesia bulan Oktober 2018 tercatat US$ 17,62 miliar. Sedangkan ekspor Indonesia bulan Oktober 2018 tercatat US$ 15,8 miliar.

Defisit neraca perdagangan disebabkan impor migas yang masih cenderung tinggi. Selengkapnya dirangkum detikFinance berikut ini.

Akibat Impor Migas

ilustrasi kapal tanker. Foto: Dok. PT Pertamina (Persero)
Neraca dagang RI Januari hingga Oktober tercatat defisit US$ 5,51 miliar. Setelah surplus di September, neraca dagangRI kembali defisit US$ 1,82 miliar.

Menurut Kepala BPS Suhariyanto, tekornya neraca perdagangan RI itu gara-gara impor migas yang naik tinggi.

"Kumulatifnya defisit kita lumayan dalam, sebesar US$ 5,51 miliar dolar. Penyebabnya migas, non migasnya masih surplus," katanya saat jumpa pers di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (15/11/2018).

Ia mengatakan, impor migas ini naik 20,6% dibandingkan September dan 23,66% secara tahunan (year on year/yoy).

"Apa yang membuat impor migas naik? Nilai minyak mentah naik 23%, hasil minyaknya 30%, gasnya 18%," katanya.

Di sisi lain, kata dia, impor migasnya alami kenaikan 19,42%, jadi itu yang membuat impor kita secara total naik dibandingkan Oktober 2017 naik 23,66%," tambahnya.

Impor Migas 3 Kuartal Besar

Ilustrasi kapal tanker. Foto: Agus Siswanto/detikcom
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menyampaikan, migas menyumbang cukup besar terhadap defisit neraca perdagangan lantaran harga minyak yang tinggi, walaupun belakangan mulai turun.

"Memang itu migas kita itu kan agak luas itu ya dan memang itu termasuk karena harga meningkat walaupun hari hari ini dia mulai turun harganya. Sehingga memang migas selama tiga kuartal impornya itu besar" kata Darmin ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Darmin tak sepenuhnya menilai defisit neraca perdagangan lantaran impor migas tinggi, karena menurutnya impor bahan baku dan barang konsumsi juga masih tinggi.

"Ya memang artinya karena memang pertumbuhannya juga relatif masih baik, impornya jalan terus. Kalau kamu lihat kan selalu dominasinya bahan baku, baru barang modal. Barang konsumsi juga, tapi ya perannya tidak banyak berubah," ujarnya.

Di sisi lain, ekspor juga belum cukup pesat dibandingkan impor yang jalan terus, disamping aliran modal yang keluar (capital outflow) dari Indonesia juga cukup deras sementara modal yang masuk (capital inflow) tidak seberapa.

"Sebenarnya persoalan kita sekarang kan lebih banyak karena ekspor melambat impornya tetap tinggi sehingga defisitnya membesar. Tapi yang lebih banyak pengaruhnya sebetulnya karena capital outflow-nya banyak, inflow-nya sedikit," tambahnya.

Penjelasan Menteri ESDM

Foto: Ari Saputra
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan buka suara merespons hal itu. Menurut Jonan impor migas memang menjadi keharusan karena sebagai bahan bakar. Sekalipun digunakan konsumen, itu dilakukan dalam rangka melakukan kegiatan produktif.

"Kan impor minyak ini nggak untuk diminum ini, kan ini sebagai alat produksi, walaupun digunakan oleh konsumen itu kan digunakan untuk berkegiatan," katanya ditemui di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Dia pun menyinggung soal tingginya impor migas yang dianggap sebagai penyebab defisit neraca perdagangan, namun menurut dia seharusnya defisit ini bisa diatasi dengan menggenjot ekspor non migas. Sayangnya, menurut Jonan ekspor non migas masih kurang.

"Ya menurut saya ekspornya kurang yang produk sektor lainnya, non migasnya," sebutnya.

Sri Mulyani Minta Pertamina Monitor Impor

Foto: Eduardo Simorangkir
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan catatan khusus terhadap tingginya impor migas. Sri Mulyani meminta Pertamina dan Menteri ESDM Ignasius Jonan melakukan monitoring.

"Kita masih meminta agar Pertamina atau Menteri ESDM melakukan monitoring lebih lanjut," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Kamis (15/11/2018).

Di sisi lain, devisa juga naik karena harga minyak mentah yang naik. Terlebih lagi, dolar Amerika Serikat (AS) juga masih menguat terhadap rupiah.

"Sementara dari devisa impor naik tinggi karena harga minyak dan kurs dalam dolar AS," kata Sri Mulyani.

Halaman 2 dari 5
(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads