Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 18 Nov 2018 19:35 WIB

Curhat Harga Sawit Merosot, Petani Minta Tarif Ekspor Diturunkan

Zulfi Suhendra - detikFinance
Foto: Agus Setyadi/detikcom Foto: Agus Setyadi/detikcom
Jakarta - Harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani terus turun. Petani pun merasa rugi dan meminta pemerintah menurunkan biaya pungutan ekspor.

Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Rino Afrino mengatakan, harga TBS di pabrik kelapa sawit di Sumatera contohmya hanya mencapai Rp 750-1.500 per Kg, di Kalimantan Barat lebih rendah, sedangkan di Sulawersi dan Papua hanya Rp 500-700 kg.

Petani merasa rugi karena biaya operasional yang mencakup perawatan, pemupukan dan panen sekitar Rp 800 sampai 900 per kg.

"Ini artinya, jika petani menjual TBS di bawah Rp800 per kg, maka itu adalah jual rugi," ujar Rino, Minggu (18/10/2018).


Dia mengatakan, Apkasindo sudah melayangkan surat ke Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution. Dalam surat tersebut, Apkasindo meminta penurunan tarif pungutan ekspor karena tanki timbun sawit sangat penuh. Dampaknya, mengurangi pembelian TBS
petani.

"Oleh karena itu, tarif pungutan ekspor sebaiknya diturunkan sementara supaya ekspor meningkat, lalu harga CPO dan TBS dapat terangkat kembali," kata Rino.

Penurunan harga CPO disebabkan beberapa sentimen negatif yang bersifat fundamental seperti stok minyak nabati dunia yang melimpah, tingkat ekspor yang rendah, dan terjadinya penurunan harga minyak dunia.


Faktor eksternal lainnya karena tingginya bea masuk yang ditetapkan negara importir. Pasokan CPO yang melimpah diproyeksikan masih akan terjadi hingga akhir tahun dan akan menekan harga komoditi sawit. (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed