Pengusaha Lebih Takut Kenaikan Suku Bunga Ketimbang Rupiah

Pengusaha Lebih Takut Kenaikan Suku Bunga Ketimbang Rupiah

- detikFinance
Senin, 29 Agu 2005 13:55 WIB
Jakarta - Rencana BI terus menaikkan suku bunga untuk mengatasi pelemahan rupiah mendapat tentangan dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Kenaikan suku bunga dinilai akan membuat anggota HIPMI yang 90 persen adalah UKM kian menderita."Kita sudah mengantisipasi rupiah melemah, ongkos produksi naik dan inflasi. Yang justru kita takutkan dampak suku bunga yang kita dengar akan segera naik untuk mengerem rupiah," kata Ketua HIPMI Sandiaga S. Uno.Ia menyampaikan hal tersebut di sela-sela ASEAN Young Enterpreneur Caucus (AYEC) di Plasa Crown, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (29/8/2005).Sandiaga menambahkan, 90 persen anggota HIPMI yang merupakan UKM bersandar ke Bank Perkreditan Rakyat (BPR). "Gejolak suku bunga akan dirasakan mereka dari awal. Kenaikan 1-2 persen saja berdampak cukup besar," ujarnya. Ia juga menampik ada anggota HIPMI yang menumpuk devisa hasil ekspornya di luar negeri. "Anggota HIPMI yang berbasis ekspor karena UKM, uangnya langsung direpatriasi ke rupiah untuk modal kerja," ujarnya. Namun demikian, HIPMI akan terus mengimbau kepada senior HIPMI untuk menyimpan dananya di Indonesia sebagai proses mendukung devisa yang kuat. "Tapi menurut saya yang lebih penting bukan ajakan repatriasi tapi dorongan insentif dari pemerintah yang nantinya akan lebih menguntungkan, dana mengalir lebih banyak," kata Sandiaga. Insentif yang diberikan bisa berupa insentif perpajakan dan konsistensi kebijakan.Dampak harga BBM kepada HIPMI dinilai lebih besar dibandingkan pelemahan kurs rupiah karena anggota HIPMI yang merupakan UKM terbukti tangguh menghadapi krisis di tahun 1998. Berdasarkan kajian, dari 25 ribu HIPMI di 33 provinsi, kenaikan harga BBM berdampak 15-20 persen kenaikan biaya produksi. Sedangkan dampak rupiah cukup variatif, ada yang dampaknya kecil karena komponen dolarnya rendah, namun ada juga yang penerimaannya besar karena produknya diekspor. Mengenai usulah diperbolehkannya pengusaha mengimpor BBM sendiri, HIPMI menilai kebijakan tersebut yang sangat baik. "HIPMI menyambut baik kebijakan itu karena saat ini Pertamina kesulitan menyediakan BBM. Selama impor ini dikoordinir dengan baik, karena yang dikeluhkan saat ini bukan hanya harga BBM tapi juga pasokan BBM," tandas Sandiaga. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads