Cerita Pertamina Pernah Jadi Korban Hoax BBM Gratis

Cerita Pertamina Pernah Jadi Korban Hoax BBM Gratis

Saifan Zaking - detikFinance
Kamis, 22 Nov 2018 13:22 WIB
Cerita Pertamina Pernah Jadi Korban Hoax BBM Gratis
Foto: Saifan Zaking/detikFinance
Jakarta - Di era media sosial media seperti saat ini, sebaran hoax menjadi sesuatu yang sangat serius. Oleh sebab itu, Penyaringan informasi sangat penting untuk dapat memilah antara berita hoax dan bukan.

"Kita perlu yang namanya melek digital, jadi bagaimana kita melakukan interaksi supaya dapat menanggulangi banjir informasi antara valid dan tidak valid," jelas Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Komunikasi dan Media Massa Gun Gun Siswadi di Hotel Borobudur, Kamis (21/11/2018).

Selain itu diperlukan peran pemerintah dalam menanggulangi berita hoax, sebab hal itu merupakan tanggung jawab bersama untuk dapat mengantisipasi hal tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Medsos sebagai sarana informasi dan berkomunikasi, kita memulai upaya-upaya mulai dari hulu dimulai dengan edukasi, mendorong masyarakat dan penegakan hukum dalam rangka mengantisipasi hoax," tuturnya.

Jadi, diperlukan adanya pengetahuan mengenai dunia digital agar dapat memilah informasi dengan baik supaya tidak mudah terpengaruh akan berita hoax.

"Oleh karena itu kita perlu melek media digital untuk dapat memanfaatkan informasi dengan baik," katanya.


Berita hoax juga pernah menimpa PT Pertamina (Persero). VP Corporate Communication PT Pertamina Adiatma Sardjito membeberkan berita hoax yang dialami perusahaan migas pelat merah itu.

"Hoax ini kami sering menjadi korban juga seperti ada pengisian BBM gratis kemudian dikasih tanggalnya (isi gratis) juga, kami sering mengalami hal seperti itu," jelas Adiatma di acara yang sama.

Ia mencontohkan mengenai kronologi berita hoax tersebut, hingga dia hapal waktu dan kapan berita hoax tersebut akan muncul.


"Misalnya dulu ada SPBU nakal di Surabaya, tentunya sudah ditindak, tapi sudah 2-3 tahun lalu kemudian itu diceritakan kembali seolah-olah itu terjadi di SPBU di jalan TB Simatupang Jakarta dan itu berulang-ulang, kita juga sudah hapal nih kalau yang SPBU nakal itu (sebar hoax) menjelang lebaran atau menjelang natal tahun baru," tambahnya.

Guna mengantisipasi berita hoax diperlukan pelatihan karena siapa pun dapat menjadi korban berita hoax.

"Kita harus latihan untuk menghadapi berita-berita seperti ini, karena siapapun bisa menjadi korban, salah satunya kami menjadi korban ini," kata Adiatma (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads