Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 27 Nov 2018 10:46 WIB

Izin di Kawasan Berikat Dipangkas Jadi 1 Jam Demi Genjot Ekspor

Trio Hamdani - detikFinance
Dirjen Bea Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi/Foto: Ari Saputra Dirjen Bea Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi/Foto: Ari Saputra
Jakarta - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan mengubah wajah (rebranding) kawasan berikat. Sebagai kawasan pendukung kegiatan ekspor, kawasan berikat harus memberi kemudahan buat pelaku ekspor.

Dirjen Bea Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi menyampaikan, pihaknya mengubah beberapa kebijakan dalam perubahan kawasan berikat.

Pertama memangkas proses perizinan menjadi lebih cepat, dari sebelumnya 15 hari kerja di Kantor Pabean dan 10 hari kerja di Kantor Pusat Bea Cukai, menjadi 3 hari kerja di Kantor Pabean dan 1 jam di Kantor Wilayah. Berikutnya, jumlah perizinan transaksional, dari 45 dipangkas menjadi 3 perizinan secara elektronik.

"Waktu Bapak Presiden (Joko Widodo) sampaikan supaya perizinan dipangkas, kami sudah berhasil pangkas," katanya di Kantor Pusat Bea Cukai, Jakarta Timur, Selasa (27/11/2018).


Kedua, Bea Cukai meniadakan izin antar bonded zone (kawasan berikat). Sebelumnya pelaku usaha harus mendapat persetujuan lebih dulu dari petugas menjadi dihilangkan.

Ketiga, masa berlaku izin kawasan berikat berlaku secara terus-menerus sampai izinnya dicabut, sehingga tidak perlu mengajukan perpanjangan izin.

"Ibarat KTP, secara reguler Bea Cukai minta perpanjangan. Perpanjangan itu tidak diperlukan lagi. It lasts forever, sampai yang bersangkutan memang ingin berhenti atau terjadi pelanggaran," paparnya.

Keempat, yang sebelumnya ekspor harus dilakukan di kawasan berikat awal, sekarang kawasan berikat yang terakhir bisa langsung ekspor. Hal ini membuat kemudahan, pasalnya ekspor barang diproduksi secara berantai. Dengan aturan lama lebih memakan waktu.

"Kelima adalah kawasan berikat mandiri. Jadi beberapa kawasan berikat tak lagi ditunggui, diminta keputusan pengeluaran atau pemasukannya oleh petugas karena sudah online. Itu kita sebut KB Mandiri," lanjutnya.


Melalui cara cara tersebut, diharapkan bisa membenahi masalah defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

"Akhirnya yang kita harapkan ini akan membawa dampak pada perbaikan transaksi neraca perdagangan. CAD jadi lebih baik lagi," tambahnya. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com