Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 28 Nov 2018 20:22 WIB

Cerita Boediono RI Bisa Lewati Krisis

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: kiagoos auliansyah
Jakarta - Sejak merdeka, Indonesia memang telah mengalami banyak krisis. Mulai dari krisis pasca kemerdekaan periode 1945-1950, kemudian krisis 1950-1957 yang menyebabkan adanya pemotongan nilai uang untuk mengurangi jumlah uang yang beredar.

Kemudian krisis 1959-1967, krisis 1980, krisis 1997-1998 dan krisis 2008. Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono menceritakan pengalaman terkait Indonesia yang berhasil melewati masa krisis besar dan mini. Terutama di era kepemimpinan Megawati Soekarnoputri dan masa kepemimpinan Abdurrahman Wahid atau Gusdur.

"Kalau zaman pemerintahan Megawati itu memang Indonesia baru melewati krisis, belum lawa waktunya. Sedangkan waktu zaman pak Gusdur itu memang ekonominya masih rawan tapi masih ada kemungkinan untuk bisa bangkit kembali," kata Boediono dalam diskusi di Djakarta Theater, Rabu (28/11/2018).


Dia menjelaskan, saat itu pemerintah memang berupaya keras untuk mengembalikan kepercayaan pelaku ekonomi yang menurun akibat krisis moneter yang terjadi pada periode 1997-1998.

"Waktu itu kepercayaan dari pelaku ekonomi terhadap solvabilitas keuangan negara sangat rendah, itu berlaku untuk orang di dalam negeri mereka waktu itu tidak mau investasi karena ragu dengan beban krisis 97-98," ujarnya.

Selain itu saat periode 1997-1998 juga tak hanya masalah bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) tapi juga dengan recapitalisasi bank besar. Kemudian waktu krisis anggaran pendapatan belanja negara (APBN) yang kurang sehat sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang sangat rendah bahkan minus.

Namun dengan perbaikan ekonomi perlahan membaik dan mulai tumbuh. Indonesia kembali menunggu pelaku ekonomi untuk masuk. "Mengembalikan kepercayaan itu dengan langkah yang kredibel. Memang menyakitkan, seperti pengeluaran yang dirasa tidak perlu, kami potong sampai ke tulangnya, itu untuk menunjukkan kalau kami serius menjaga sustainability APBN kita," imbuh dia.


Dia menyampaikan setelah ekonomi kondusif dan stabil, mulai terlihat inflasi yang terkendali. Kemudian diikuti dengan masalah perizinan yang dilonggarkan. Suku bunga acuan yang ada di Indonesia mulai disesuaikan untuk menjaga agar dana asing yang ada di dalam negeri tidak kabur.

Boediono menyampaikan, periode 2001-2004 adalah masa real interest rate, kondisi permodalan bank dan inflasi nasional sudah mulai membaik. Nah hal itulah yang menjadi harapan pemerintah untuk memperbaiki ekonomi dan meningkatkan investasi. (kil/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com