Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 02 Des 2018 07:30 WIB

Fenomena Pembayaran QR

Fenomena Belanja Kekinian Tanpa Uang Tunai hingga Kartu

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Danang Sugianto Foto: Danang Sugianto
Jakarta - Sejak 2013 pemerintah dan Bank Indonesia menggaungkan kampanye cashless society alias gerakan transaksi non tunai. Seiring perkembangan teknologi yang berhasil mengubah total gaya hidup bermasyarakat termasuk dalam hal bertransaksi, kampanye itu kini mulai terasa manfaatnya.

Saat ini banyak perusahaan yang telah menyediakan layanan sistem pembayaran dengan teknologi QR Code (Quick Response Code) atau QR payment. Mulai dari perusahaan teknologi start-up, operator hingga perbankan yang juga mulai ikut-ikutan menyediakan layanan itu.

Sebut saja, Go-Pay, Ovo, yap!, Sakuku dan masih banyak lagi. Mereka berlomba menarik pengguna dengan berbagai cara, mulai dari memperbanyak kerjasama merchant hingga obral promo besar-besaran.

Fenomena Belanja Kekinian Tanpa Uang Tunai hingga KartuFoto: Danang Sugianto

Apa sih QR payment itu? detikFinance menjajalnya langsung. QR Payment atau pembayaran QR adalah transaksi digital di mana proses pembayaran tak melibatkan uang tunai, bahkan tak menggunakan kartu yang dicolok, ditempel atau digesek.


Pembayaran QR cukup dilakukan dengan menggunakan telpon selular (ponsel). Pelanggan cukup mengarahkan layar kamera pada sebuah gambar berbentuk persegi empat dengan corak aneh yang dinamakan QR Code. Seketika itu transaksi pembayaran sudah terjadi.

Fenomena Belanja Kekinian Tanpa Uang Tunai hingga KartuFoto: Danang Sugianto

Maraknya penyedia layanan QR payment pun mulai berbuah hasil. Sebagian masyarakat mulai terbiasa dengan menggunakan 'dompet elektronik'. Ada beberapa alasan mengapa sebagian masyarakat sudah terbiasa bertransaksi dengan QR Payment, mulai dari tawaran promo yang gila-gilaan hingga banyaknya merchant.

detikFinance menelusuri seberapa besar perkembangan QR Payment saat ini. Ternyata gaya transaksi scan QR tak hanya merambah toko dan restoran tapi juga warteg dan warung bakso pinggir jalan.

Di Bekasi Barat, tepatnya di Jl Lele Raya, Kayuringin Jaya, terdapat sebuah warung nasi sederhana yang ternyata menerima QR payment. Terdapat kertas pengumuman bertuliskan 'di sini menerima pembayaran melalui Go-Pay'. Lengkap juga dengan QR code yang juga tertempel di etalase warung.

"Belum lama kita terima pakai Go-Pay. Belum banyak si yang pakai," kata si pemilik warung saat ditemui detikFinance pekan lalu.

Siang itu, warung nasi yang bernama Warung Nasi Barokah itu dalam keadaan sepi, hanya ada 1 pembeli yang sedang makan. detikFinance menjajal beli 2 potong ayam goreng menggunakan Go-Pay, tinggal scan barcode, transaksi selesai.


Ada juga warung bakso pinggir jalan di daerah Tebet, Jakarta Selatan yang menerima QR payment, namanya Bakso Pak'De Sastro. Sama dengan warung makan tadi, warung bakso ini juga bekerjasama dengan Go-Pay.

Go-Pay dengan nama perusahaan PT Dompet Anak Bangsa diketahui memang tengah gencar melakukan promosi. Sejak induknya PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Go-Jek) mendapatkan suntikan dana sekitar Rp 16 triliun, perusahaan milik Nadiem Makarim itu memang tengah 'bakar duit' dengan tujuan promosi.

Bayangkan saja Go-Jek berani memberikan promosi waralaba cemilan ayam goreng asal Taiwan Shihlin hanya Rp 1.000. Padahal harga aslinya Rp 42.000. Banyak juga merchant-merchant lain yang dibuat promosi gila-gilaan pada September 2018 kemarin. Bulan ini Go-Pay juga melakukan promosi dengan menerapkan diskon 50%.

Sama seperti Go-Pay, Ovo, QR Payment milik Lippo Group juga gencar melakulan promosi. Dia menerapkan cashback hingga 60% di mitra-mitranya. Begitu juga dengan yap! milik BNI dan Sakuku punyanya BCA.

Fenomena Belanja Kekinian Tanpa Uang Tunai hingga KartuFoto: Danang Sugianto

Seluruh promosi yang dilakukan penyedia QR Payment itu tujuannya untuk membiasakan masyarakat Indonesia bertransaksi menggunakan uang elektronik. Hasilnya pun mulai terlihat.

Sebuah cabang Yoshinoya di sebuah mal di Jakarta Timur mengaku penjualannya naik signifikan bahkan bias 2 kali lipat saat perusahan penyedia QR payment melakukan promosi. Bahkan saat ini sekitar 60% dari pembelinya setiap hari adalah pengguna QR payment.

Bagi mereka tentu hal itu sangat menguntungkan. Tapi masih ada keluhan, seperti mesin EDC yang terkadang ngadat dengan berbagai penyebab. Gangguan sinyal yang sering menjadi kendala.

Sayangnya, ketika sudah mulai nge-trend transaksi menggunakan QR Payment, belum ada regulasi yang menjadi landasan. Bank Indonesia (BI) sendiri masih terus melakukan persiapan regulasi.


Awalnya BI mengimplementasikan standarisasi QR code pada Agustus dan September 2018. Implementasinya dilakukan terbatas atau pilot projek selama 6-9 bulan untuk 12 perusahan penyedia QR payment yang terdaftar.



Simak video 'Kini Bisa Bersedekah Hanya dengan Scan Barcode':

[Gambas:Video 20detik]

Fenomena Belanja Kekinian Tanpa Uang Tunai hingga Kartu
(erd/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed