Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 06 Des 2018 18:11 WIB

Pola Tumpangsari Jadi Andalan Genjot Produksi 3 Komoditas Ini

Nabilla Nufianty Putri - detikFinance
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan bahwa produksi komoditas tanaman pangan utama, yaitu padi, jagung, dan kedelai (pajale) meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir. Setiap tahunnya, rata-rata produksi padi mencapai 4,07%, jagung 12,5%, dan kedelai 8,79%.

Dirjen Tanaman Pangan Sumarjo Gatot Irianto menyebutkan pada tahun ini pihaknya mempunyai beberapa program terobosan untuk mencapai sasaran produksi. Salah satunya melalui pengembangan pola tanam tumpangsari padi, jagung dan kedelai dengan sistem tanam rapat.

"Pola tumpangsari akan lebih dipacu lagi di tahun mendatang. Indonesia masih punya peluang untuk menggenjot produksi dengan pola tersebut sampai 5 tahun ke depan sehingga dapat memitigasi alih fungsi lahan terutama akibat pembangunan infrastruktur," jelasnya dalam keterangan tertulis, Kamis (6/12/2018).


Selain mengembangkan tumpang sari, Ditjen Tanaman Pangan juga mengoptimalkan penanaman padi gogo di lahan kering, gogo sawah, gogo gunung, gogo rawa, padi rawa dan padi pasang surut.

"Potensi kita masih banyak untuk mengembangkan padi di luar lahan sawah. Tahun 2018 ini kita mengembangkan padi gogo seluas 1 juta ha di areal lahan baru. Kita menyadari alih fungsi lahan semakin tinggi, maka dengan perluasan lahan di areal baru sebagai solusi kita untuk tetap mempertahankan produksi padi nasional," paparnya.

Ia melanjutkan, dari sisi sarana produksi penggunaan benih bermutu dan penyediaan bantuan benih tahun 2018 seluas 6.788.210 ha untuk benih padi inrida, padi hibrida, jagung dan kedelai diharapkan mampu menyediakan benih varietas unggul.

Selain bantuan benih, Gatot menyebutkan Ditjen Tanaman Pangan telah melaksanakan program Desa Mandiri Benih (DMB) DMB di 1.313 unit. Program ini ditujukan agar petani dapat mampu memenuhi kebutuhan benihnya sendiri.

Sementara dalam hal pengamanan produksi, Gatot pun mengungkap terus mengimplementasikan gerakan budidaya tanaman sehat (BTS). Upaya ini dilakukan di lahan endemis serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Tahun 2017, gerakan BTS dilaksanakan di 13.610 ha dan tahun 2018 meningkat menjadi 33.000 Ha.

Menurutnya, gerakan BTS ini berhasil menurunkan serangan OPT cukup signifikan. Berdasarkan laporan pengamat OPT di lapangan, produktivitas di lahan BTS meningkat dari semula 6,46 ton/ha menjadi 8,7 ton/ha, serangan OPT juga mengalami penurunan signifikan di tahun 2018 ini sebesar 36,56% dari tahun sebelumnya.

"Terbukti upaya gerakan pengendalian yang intensif selama ini mampu meminimalisir serangan OPT tahun ini," jelas Gatot.


Untuk mengurangi susut hasil panen dan peningkatan nilai tambah, Ditjen Tanaman Pangan telah mengalokasikan bantuan alsintan pascapanen. Gatot memaparkan selama kurun waktu 2014-2018 pihaknya telah memberikan bantuan alsintan sebanyak 52.230 Unit. Tahun 2018 ini memberikan dryer sebanyak 1.000 unit.

"Dengan bantuan dryer diharapkan tidak hanya produksi yang terjaga namun mutu panen juga baik. Apabila kualitas terjaga maka harga juga akan bagus," ungkapnya.

Terkait dengan ekspor impor produk tanaman pangan, perkembangan ekspor beras khusus dan beras premium melonjak tajam pada periode tahun 2017 dan 2018. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, volume ekspor beras kategori ini pada 2017 mencapai 3.433 ton.

"Angka itu meningkat lebih dari 2.540 persen dibandingkan pada 2014 yang hanya sekitar 130 ton," sebut Gatot.

Gatot memperkirakan ekspor beras premium dan khusus akan kembali mengalami peningkatan. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, hingga September lalu, volume ekspor beras kategori premium dan khusus sudah mencapai 3.069 ton.

"Capaian ini membuktikan bahwa pemerintah tidak hanya terfokus pada peningkatan beras untuk memperkuat cadangan beras pemerintah saja, tetapi juga turut berupaya mengembangkan beras untuk segmen pasar khusus," terangnya.

Begitu pula ekspor dan impor jagung. Ia mengatakan, sejak tahun 2016 Kementan membatasi pemberian rekomendasi impor jagung, dan bahkan pada tahun 2017, sama sekali tidak melakukan impor.

"Kebijakan ini terbukti mampu menggerakkan perekonomian petani. Petani menjadi tertarik menanam jagung karena harga yang bagus. Bahkan tahun 2018 ini telah mampu ekspor jagung sebesar 380.000 ton," tutup Gatot.



Tonton juga ' Sedotan Beras, Inovasi Cerdas Berantas Sampah Plastik ':

[Gambas:Video 20detik]

Pola Tumpangsari Jadi Andalan Genjot Produksi 3 Komoditas Ini
(prf/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed