Indonesia Pemegang Kunci Pasokan Gas di Asia Pasifik
Kamis, 01 Sep 2005 18:54 WIB
Jakarta -
Indonesia menjadi eksportir liquid natural gas (LNG) terbesar di dunia dan pemegang posisi kunci pemasok energi ke wilayah Asia Pasifik. Demikian siaran pers Manajer Komunikasi ExxonMobile Oil Indonesia, Deva Rachman kepada detikcom, Kamis (1/9/2005).Peran ExxonMobil di Indonesia adalah salah satu operator produsen gas alam terbesar di dunia yaitu Arun dengan lebih dari 14 triliun kaki kubik gas yang telah diproduksi. Selain itu, Exxon juga sebagai operator dari TAC Cepu daratan. Bulan Juni 2005 lalu, Exxon melalui anak perusahaannya, Mobil Cepu Ltd dan Ampolex (Cepu) Pte Ltd bersama-sama dengan Pertamina dan pemerintah Indonesia menandatangani MoU dasar pengembangannya yang menyimpan potensi 600 juta barel minyak plus kandungan gas.Kegiatan pengembangannya akan dilakukan Exxon apabila perjanjian telah final dan bila disepakati maka produksi dimulai di tahun 2008 dengan produksi puncak 170 ribu barel per hari. Selain, dua proyek itu, Exxon juga menjadi operator Natuna Alpha Field bersama Pertamina.Berdasarkan hasil penelitian Exxon disebutkan, diperkirakan kebutuhan global semua jenis energi akan naik 1,7 persen per tahunnya dari tahun ini sampai 2030. Itu dengan asumsi populasi dunia naik sampai 8 miliar atau 25 persen lebih banyak dari populasi saat ini.Artinya total kebutuhan energi akan naik mendekati 50 persen dari range 220 juta sampai 335 jutabarel minyak per hari. Industri migas diprediksi akan tetap menjadi sumber daya energi terpenting sampai tahun 2030. Kebutuhan minyak dipicu pertumbuhan sektor transportasi tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan 1,5 persen, gas alam naik 2 persen per tahun dan batubara tetap menjadi sumber energi ketiga dengan pertumbuhan tahunan sebesar 1,7 persen per tahun.Inti dari semua fakta dengan tanpa mengecilkan pentingnya upaya pencarian energi alternatif yang menjadi masalah utama mendatang. Badan Energi Internasional (IEA) mengemukakan total investasi yang dibutuhkan dalam industri energi dunia membutuhkan biaya lebih dari US$ 16 triliun.
(mar/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































