Paket Ekonomi SBY Tak Ada Yang Baru
Kamis, 01 Sep 2005 21:45 WIB
Jakarta - Paket kebijakan ekonomi yang diumumkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak ada yang baru dan menunjukkan betapa lemahnya Indonesia dalam menghadapi tekanan tekanan asing saat ini."Bagi saya tidak ada yang baru, kebijakan yang dikeluarkan oleh SBY itu sebagai sesuatu yang sudah bisa diduga sebelumnya dan it tidak ada yang baru sama sekali," tegas pengamat ekonomi UGM Revrisond kepada detikcom melalui telepon, Kamis (1/9/2005). Menurut Sonny panggilan akrabnya, saat terjadi krisis anjloknya nilai tukar rupiah itu menunjukkan sangat lemah dan tak berdayanya pemerintah dalam menghadapi kekuatan asing, terutama posisi tim ekuin. Selain itu, dibalik anjloknya rupiah itu ada operator asing yang ikut bermain melalui berbagai jaringan internasional dan multinasional. Oleh karena itu langkah-langkah yang harus diambil pemerintah adalah mengungkap secara jelas akan adanya tekanan jaringan internasional dan multinasional, siapa yang ikut bemain. Sebab bila dituruti kemauan mereka, maka rakyatlah yang akan semakin tertekan. "Mereka itu mulai bermain setelah ada liberalisasi migas dan setelah ini bisa merembet ke yang lain, misalnya air dan sebagainya," kata staf pengajar Fakultas Ekonomi UGM itu Sonny menegaskan pemerintahan SBY tidak bisa begitu saja melayani tekanan kekuatan asing, tapi pemerintah harus memperhitungkan ketahanan ekonomi nasional. Semestinya pemerintah meningkatkan posisi tawarnya dalam percaturan perekonomian dunia. Sebab bila tidak, Indonesia selamanya akan menjadi bulan-bulanan kekuatan asing yang banyak bermain di Indonesia. "Kekuatan asing melalui berbagai jaringan internasional dan multinasional itu akan terus menekan," katanya.
(mar/)











































