Prabowo melontarkan pernyataan itu saat memberikan dalam pembekalan relawan Prabowo-Sandi di Istora Senayan, Jakarta, pada Kamis (22/11). Pernyataan itu pun viral melalui video yang tersebar mulai dari Twitter hingga Youtube.
Berita terkait pernyataan Prabowo itu tentu menarik perhatian banyak publik. Sebagai bank sentral yang menjaga moneter, BI tentu tidak memberikan pinjaman seperti bank-bank biasa. Berita ini pun menjadi salah satu yang paling banyak dibaca sepanjang 2018.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
|
Foto: Ristu Hanafi/detikcom
|
Ketua Umum Partai Gerindra itu tampak berbicara saat sedang berkampanye bersama banyak orang. Video tersebut beredar di berbagai media sosial baik Twitter hingga YouTube.
"Jangan kita malu kalau kita nggak punya duit, kita tidak malu. Saya mantan perwira tinggi, saya berjuang untuk republik ini, keluarga saya berjuang untuk kemerdekaan ini, saya minta kredit dari Bank Indonesia, saya nggak bisa-bisa dapat. Apalagi kalian, mantan Pangkostrad saja nggak bisa, apalagi tampang kalian," ujar dia seperti yang dilihat detikFinance pada Sabtu 24 November 2018.
Selain itu, ia juga menuding bank nasional tidak menjalankan fungsi sebagai mana mestinya. Prabowo pun meminta agar bank mampu tegas serta adil melaksanakan tugasnya.
"Hei dirut-dirut BUMN, jangan kau kira BUMN milik nenek moyangmu. Kau kasih kredit kepada yang itu-itu saja terus dan suatu saat kau harus bertanggung jawab," katanya tegas.
|
Foto: Dok. Pribadi
|
"Jelas yang dimaksud Prabowo itu adalah bank (perbankan) di Indonesia. Bukan BI (Bank Indonesia)," ujarnya
Ia mengaku bingung terhadap pihak yang membuat viral video itu. Menurut Dradjad, seharusnya pihak yang membuat viral tersebut melakukan riset lebih mendalam.
"Yang meributkan di medsos itu apa tidak punya urusan yang bermanfaat selain ribut ya? Dan kalau mau ribut seperti itu, mbok ya riset dikit tho Mas dan Mbak. Ben rodo pinter ribut e (biar pintar ributnya) he-he-he...," kata politikus PAN itu.
Dradjad menjelaskan lebih lanjut mengenai pernyataan Prabowo itu. Soal tak bisa mengajukan kredit, Prabowo disebut tengah merujuk pada pengalamannya setelah mengambil alih PT Kiani Kertas.
"Dulu Kiani adalah pasien BPPN, kreditnya macet triliunan. Lalu oleh BPPN dijual melalui Program Penjualan Aset Kredit (PPAK). Nah Prabowo bersama konsorsium Bank Mandiri dan Anugrah Cipta Investama yang menjadi pembelinya," ungkap Dradjad.
"Prabowo mau masuk karena diajak oleh mantan Dirut Bank Mandiri waktu itu, ECW Neloe. Alasannya, sayang kalau diambil asing. Karena jiwa nasionalismenya tinggi, Prabowo mau dan menyuntik dana US$ 30 juta. Kalau tidak salah ingat, itu tahun 2003," imbuhnya.
Menurut Dradjad, Kiani lalu memerlukan kredit modal kerja untuk operasinya. Kemudian Kiani menghubungi beberapa bank, termasuk BUMN, untuk mengajukan kredit, tapi ditolak.
"Padahal bank-bank itu mudah saja menggelontorkan kredit ratusan miliar, bahkan triliunan, ke konglomerat yang berlatar belakang etnis tertentu. Itu sebabnya Prabowo pada tanggal 25 Mei 2005 menyampaikan Kiani sulit mendapatkan kredit dari perbankan nasional," urai Dradjad.
Dradjad, yang kini masuk tim ahli ekonomi Prabowo-Sandi, menyebut Prabowo masuk Kiani bersama Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Kemaritiman yang kini menjadi pendukung petahana Joko Widodo. Keduanya berkawan sejak menjadi prajurit di Kopassus.
"Sebagai catatan, Prabowo masuk Kiani waktu itu bersama Luhut Binsar Pandjaitan. Jadi jelas yang dimaksud Prabowo itu bukan BI," tegas Dradjad.
|
Foto: Rengga Sancaya
|
"Nggak bisa (beri kredit), kan BI itu bank sentral jadi hanya berhubungan dengan bank-bank, mengenai transaksinya, mengontrol transaksi antar bank," jelas Arbonas kepada detikFinance.
Lebih dari itu, Arbonas juga mengaku belum pernah mendengar Prabowo Subianto yang mengajukan pinjaman kredit ke BI.
"Nggak pernah dengar, nggak boleh ya. Nggak bisa (mengajukan pinjaman ke BI)" katanya.
Dikutip dari website resmi BI, dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.
Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain.
Perumusan tujuan tunggal ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai Bank Indonesia serta batas-batas tanggung jawabnya. Dengan demikian, tercapai atau tidaknya tujuan Bank Indonesia ini kelak akan dapat diukur dengan mudah.
Untuk mencapai tujuan tersebut BI didukung oleh tiga pilar yang merupakan tiga bidang tugasnya. Ketiga bidang tugas tersebut perlu diintegrasi agar tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Adapun, tugas pertama, yakni menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter. Kedua, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran dan ketia adalah stabilisasi sistem keuangan.










































