Bulog Kucurkan Beras 500.000 Ton di 2018, Kok Harga Naik?

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Rabu, 02 Jan 2019 17:15 WIB
Gedung Bulog/Foto: Dikhy Sasra
Jakarta - Perum Bulog telah menggelontorkan lebih dari 500 ribu ton beras untuk operasi pasar sepanjang 2018, namun harga beras sempat naik sebesar Rp 50 per kilogram (kg).

Menurut Direktur Operasional dan Pelayanan Publik (OPP) Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh kenaikan harga bukan terjadi pada beras milik Bulog, tapi pada beras merek lain.


Hal itu dikarenakan, Badan Pusat Statistik (BPS) memiliki metode pencatatan harga beras berdasarkan yang paling laku di pasaran. Sedangkan, beras Bulog tidak banyak diminati sehingga tidak tercatat.

"Patokan harga itu yang dicatat (beras yang harganya naik) yang paling laku yang beredar di pasaran. Kalau yang laku itu Rp 10.000 harganya padahal HET Rp 9.450 ya gitu. Nah, kalau beras Bulog kan nggak terlalu diminati jadi nggak tercatat," kata dia kepada detikFinance, Rabu (2/1/2018).


Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan saat ini terjadi perubahan segmen pasar. Dari sebelumnya masyarakat membeli beras jenis medium menjadi premium.

"Ada juga perubahan segmen dari masyarakat sebelumnya beli beras medium terus beralih beli beras jenis premium," jelas dia.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo memanggil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso ke istana negara. Jokowi meminta agar ada operasi pasar untuk stabilisasi karena terjadi kenaikan harga beras sebesar Rp 40 - Rp 50 per kilogram (kg).

(hns/hns)