Untung-Buntung Belanja di Mal Rongsok

ADVERTISEMENT

Untung-Buntung Belanja di Mal Rongsok

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Minggu, 06 Jan 2019 19:08 WIB
Foto: Mal Rongsok. Fadhly Fauzi Rachman-detikFinance
Jakarta - Absori datang jauh-jauh dari Subang untuk mencari sebuah barang di Mal Rongsok Beji, Depok. Pria yang menggandeng anak kecil itu sibuk berkeliling mencari speaker untuk mobilnya.

Setelah puas berkeliling dan melihat-lihat, barang incaran Absori pun akhirnya ketemu. Sebuah speaker berukuran besar, mereknya JBL. Walau bentuk fisiknya sudah tak mulus lagi, namun harga speaker itu dibanderol Rp 500 ribu.

Absori berpikir cukup panjang untuk bisa memutuskan mengambil barang incarannya itu atau tidak. Dia menawar seharga Rp 200 ribu tapi urung dikasih. Akhirnya, dia memutuskan untuk tak membeli speaker tersebut.

"Masih kemahalan kalau segitu harganya," kata Absori kepada detikFinance saat dijumpai di Mal Rongsok pekan lalu.

Absori sendiri memang sudah beberapa kali belanja ke Mal Rongsok. Biasanya, dia mampir ke sana kalau sedang berkunjung ke rumah saudara di Depok. Kali ini, kebetulan sedang ada barang yang ingin dicarinya. Tapi sayang, barang yang sudah jadi incarannya itu belum jodoh.


Ia pun bercerita mengapa akhirnya memutuskan untuk tak jadi membeli speaker incarannya itu. Dia bilang, belanja barang bekas perlu kehati-hatian. Salah-salah, barang sudah dibeli tapi ternyata barang tersebut rusak. Akhirnya hanya rugi yang didapat.

"Jadi memang untung-untungan kalau beli barang bekas. Karena kondisinya memang seadanya, kita juga sudah paham. Jadi harus pintar-pintar kalau cari barang bekas," kata Absori.

Hal senada juga diungkapkan oleh pembeli lainnya bernama Levi. Levi yang hobi mengkoleksi barang-barang bekas, khususnya elektronik, sudah sering mendapat barang yang 'zonk'. Dia pun mengaku tak masalah dengan hal tersebut. Padahal, biasanya barang yang dibelinya di Mal Rongsok juga untuk dijual lagi oleh Levi.

"Jadi kalau dapat barang yang rusak ya resiko kita. Kalau saya ngumpulin aja koleksi buat di gudang, entar juga ada yang nyari (beli). Hobi jadi duit lah," katanya sambil tertawa.


Sore itu, Levi sendiri berencana memborong puluhan set komputer di Mal Rongsok. Dia mengaku untung-untungan membeli barang tersebut. "Namanya juga barang bekas, jadi nggak bisa komplain lagi, jadi kira-kira saja," katanya.

Tapi beda cerita kalau barang-barang yang didapat tersebut memiliki kondisi yang bagus. Contohnya satu set komputer di Mal Rongsok dijual dengan harga Rp 350 ribu. Kalau kondisi komputer itu masih prima dan bisa nyala, kata Levi, maka komputer itu bisa dijualnya lagi hingga 2-3 kali lipat dari harga belinya.

"Makanya emang harus pintar-pintar beli barang bekas. Bisa untung, bisa juga buntung," ujarnya.

Tak memungkiri pernyataan Absori dan Levi, pemilik Mal Rongsok yakni Nurcholis Agi mengakui bahwa barang-barang yang dijual di tokonya merupakan barang seadanya. Dia pun mengatakan, bahwa membeli barang-barang bekas di sejumlah tempat dengan kondisi yang seadanya.


Agi juga mengaku tak takut rugi kalau pasokan barang bekas yang dibelinya nanti tak laku dijual. Dia mengaku punya hitung-hitungan khusus untuk belanja dan menjual barang-barang bekas.

"Contohnya begini, kalau kita beli barang misal komputer harga barunya kurang lebih Rp 5 juta. Nah saya harus beli itu maksimal Rp 100 ribu. Jadi kalau misalnya nggak laku, kalau kita kiloin, ini jadi duit Rp 80 ribu, tapi kalau (jual) diketeng bisa laku Rp 350 ribu," kata Agi menerangkan.

Hitung-hitungan itu, kata Agi dia dapatkan berdasarkan pengalamannya membeli dan menjual barang bekas bertahun-tahun. Semua barang pun punya hitungan yang berbeda-beda dan dia harus hafal hitungan dari masing-masing barang yang dijualnya.

"Jadi saya udah hafal harga barang baru berapa, terus harga bekasnya berapa, harus dibeli berapa dan dijual berapa. Itu harus tahu. Kenapa saya bisa tau semua? soalnya saya kalau jalan-jalan ke mal pasti liat semua harga barang-barang yang dijual. Cuma lihat harga doang, istilahnya riset he..he," ujar Agi.

Di Mal Rongsok sendiri memang ada cukup banyak barang-barang yang sudah tua dan tak laku terjual. Contohnya pemutar VCD tua. Barang-barang elektronik itu, kata Agi, sudah terlalu lama menumpuk di Mal Rongsok karena tak laku terjual. Satu-satunya cara agar Agi tak banyak mengalami kerugian ialah dengan menjual kiloan.

"Kalau nggak laku ya dikilo, mau diapain lagi. Kalau dikilo kan tetap jadi duit, cuma kita rugi sedikit lah," tuturnya. (fdl/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT