ADB: Ekonomi RI Tumbuh 5,7%

Lebih Baik dari Negara ASEAN

ADB: Ekonomi RI Tumbuh 5,7%

- detikFinance
Kamis, 08 Sep 2005 11:59 WIB
Jakarta - Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2005 akan mencapai 5,7 persen. Angka ini berarti meningkat dibandingkan prediksi semula sebesar 5,5 persen.Demikian Asian Development Outlook 2005 Update (ADO) yang dikeluarkan ADB, Kamis (8/9/2005). ADO Update merupakan revisi dari ADO yang dikeluarkan April lalu.Dari beberapa negara ASEAN, hanya Indonesia dan Kamboja yang revisi pertumbuhan ekonominya dinaikkan. Pertumbuhan ekonomi Thailand direvisi dari 5,6 persen menjadi 4 persen. Malaysia direvisi dari 5,7 persen menjadi 5,1 persen. Filipina direvisi dari 5 persen menjadi 4,7 persen. Sementara Vietnam tetap di kisaran 7,6 persen.Dalam laporan tersebut dikatakan, sejumlah faktor menyebabkan pertumbuhan ekonomi ASEAN bergerak melemah. Misalnya saja Filipina dan Thailand yang cukup terpukul oleh tingginya harga minyak dan gagal panen. Filipina plus Malaysia juga tertekan oleh melambatnya sektor elektronik dunia.Namun khusus untuk Indonesia, ADB menilai faktor-faktor negatif tersebut bisa ditutupi oleh membaiknya iklim investasi. Sementara Vietnam tertolong oleh tingkat pertumbuhan yang baik. Secara keseluruhan, ADB merevisi pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara turun menjadi 5 persen, dari semula 5,4 persen. ADB juga menyebutkan, karena kebanyakan negara Asia adalah net importir minyak dan juga digolongkan sebagai kawasan yang tidak efisien dalam penggunaan energi, maka kawasan Asia sangat rentan oleh kenaikan harga minyak dunia. Bahkan sejumlah negara Asia yang merupakan net eksportir seperti Kazakhstan, Panua Nugini dan Vietnam tetap menghadapi sejumlah tantangan jika harga minyak dunia melonjak.Negara-negara Asia juga perlu melakukan sejumlah penyesuaian untuk berjaga-jaga jika harga minyak dunia bertahan pada level yang tinggi. "Harga minyak kini telah meningkat hampir 75 persen sejak awal tahun 2005. Di sepanjang kawasan ini, tanda-tanda ketegangan sudah mulai nampak. Kegagalan untuk menyesuaikan dapat menimbulkan sejumlah risiko," ujar Chief Economist ADB Ifzal Ali.Risiko lainnya yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kawasan ini adalah kemungkinan melambatnya ekonomi AS dan ancaman penyakit serta terorisme. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads