Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 12 Jan 2019 08:05 WIB

Menimbang Peluang Sri Mulyani Jadi Presiden Bank Dunia

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati disebut-sebut sebagai sosok yang berpotensi menjadi Presiden World Bank (WB) atau Bank Dunia. Peluang ini disampaikan US Chairman The Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF), Mark Sobel.

Dalam opininya, posisi Bos Bank Dunia sepeninggalan Jim Yong Kim bisa diisi oleh orang yang bukan asli warga Amerika Serikat (AS). Selain Sri Mulyani, Mark Sobel juga menyebut Menteri Keuangan Nigeria Ngozi Okonjo-Iweala yang juga mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia pun memiliki potensi yang sama.

Mark Sobel menilai, langkah Jim Yong Kim yang resmi mundur per 1 Februari 2019 ini juga menjadi momentum untuk mengubah konsensus mengenai kepemimpinan di dua lembaga internasional itu, yakni World Bank dan IMF.


"Kepergian Kim menghadirkan kesempatan untuk mengevaluasi kembali konvensi," kata Mark Sobel seperti yang dikutip dari laman OMFIF, Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Mark Sobel menilai, jika negara berkembang serius mengakhiri dominasi konvensi tersebut, maka harus bertindak cepat untuk menemukan kandidat yang kuat, kredibel, dihormati secara global.

Apalagi, lanskap ekonomi global yang berubah membuat konvensi tersebut semakin ketinggalan zaman. Ada banyak kandidat potensial yang di dunia, termasuk dari AS.


Menurut ekonom Eny Sri Hartati, potensi tersebut bisa dilihat dari aturan yang dipegang oleh Bank Dunia sampai saat ini.

"Organisasi itu punya AD/ART atau apapun namanya, setahu saya memang secara resmi tentu tidak ada managing director atau director harus warga negara tertentu, itu tidak ada," kata Direktur Eksekutif INDEF itu kepada detikFinance, Jumat (11/1/2019).


Menurut Eny fokus Bank Dunia terhadap pengentasan kemiskinan dan ketimpangan di dunia pun menjadi angin segar bagi para kandidat yang berasal dari negara-negara berkembang, seperti Indonesia, sebab fokusnya nanti akan sama yaitu mengentaskan kemiskinan dan ketimpangan.

"Artinya dia lebih memahami, lebih merasakan kemiskinan dan ketimpangan di negara-negara," ujar Eny. (hek/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed