Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 14 Jan 2019 17:29 WIB

Saat CT hingga Sri Mulyani Satu Panggung Bicara Kualitas SDM RI

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Nadia Permatasari/Infografis Foto: Nadia Permatasari/Infografis
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan bahwa pada tahun 2019 fokus pemerintahan kabinet kerja adalah membangun sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas setelah empat tahun gencar bangun infrastruktur. Pembangunan SDM yang berkualitas dalam rangka menyongsong revolusi industri 4.0 yang serba digital.

Pada kesempatan ini, Himpuni mengadakan seminar dan dialog nasional mengenai penyiapan SDM Indonesia mewujudkan revolusi industri 4.0 di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta Pusat.

Hadir sebagai pembicara Chairman CT Corp Chairul Tanjung (CT), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, dan Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani.

CT mengatakan, pembangunan SDM nasional harus dilihat dari tiga aspek. Pertama, geopolitik dan geoekonomi, kedua perubahan generasi, ketiga perubahan teknologi.

"Kita sedang mengalami perubahan yang tidak pernah kita prediksi, perubahan ini menjadi distruption di sektor manusia," kata CT di Jakarta, Senin (14/1/2019).

Dia menjelaskan, di era revolusi industri 4.0 ini terjadi perubahan-perubahan yang luar biasa. Oleh karena itu perlu penyesuaian yang cepat. Penyesuaian itu pun mulai dari inovasi, kreativitas, dan enterpreneurship.

"Jadi terjadi perubahan, bagaimana melihat kesiapan Indo,nesia jujur harus kita akui, dalam perubahan terjadi perubahan fundamental luar biasa," jelas dia.

"Untuk bisa menang dibutuhkan tambahan, inovasi, kreativitas dan enterpreneurship, pertanyaannya apakah SDM kita sudah siap bersaing di era disruption ini, memiliki enterpreneurship dalam persaingan, untuk efisiensi dan produksi kita masih berbenah jauh," tambahnya.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, pengembangan SDM tanah air harus dilakukan karena tercatat produktivitasnya masih rendah dibandingkan negara lain.

"Hal pertama yang harus diperhatikan itu adalah produktivitas, produktivitas Indonesia pertama relatif rendah dibandingkan negara lain," kata Bambang.

Pengembangan bisa dilakukan misalnya dengan memberikan keterampilan khusus kepada masyarakat serta kemitraan dengan para pelaku usaha.



Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani mengatakan kemitraan antara pengusaha besar dengan masyarakat akan memberikan kepastian pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan.

Selain itu, link and match antara pendidikan dengan dunia usaha pun harus segera ditekankan oleh pemerintah. Agar, kebutuhan dunia kerja bisa terpenuhi dengan cepat.

"Saya ambil contoh ya, misalnya di sektor yang umum deh kayak bangunan, itu pada kenyataannya sekarang ini sulit mencari tenaga kerja yang berpengalaman di mekanika elektrik. Itu sulit. Karena peminatnya di bidang itu nggak banyak, yang memperebutkan banyak," kata Hariyadi.

"Sehingga yang terjadi, untuk mengisi kekosongan, level tenaga kerjanya diturunkan, entah itu lulusan STM atau cuma D3. Itu begitu mereka masuk pun harus dilatih lagi," tambah Hariyadi.



Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, akan terus menggunakan kebijakan fiskal guna menjadikan SDM tanah air berkualitas tinggi.

"Bahwa presiden Jokowi sekarang betul-betul memusatkan bagaimana kita perlu untuk meningkatkan kualitas SDM itu, karena memang disadari tidak hanya bahwa pembangunan intinya adalah manusia. Namun juga ini merupakan salah satu cara bagi Indonesia untuk maju dari negara middle income menjadi high income country. Ini hanya bisa dilalui apabila kualitas SDM sumber daya manusia dan institusinya menjadi positif," kata Sri Mulyani.

Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas SDM adalah menjamin kesehatan masyarakatnya sejak dalam kandungan.

"Tidak mungkin kita punya kesiapan tenaga kerja manusia apabila setiap anak yang lahir di Indonesia masih terancam berbagai macam kekurangan," ungkap dia.

Oleh karena itu, selain anggaran pendidikan yang besar, pemerintah juga menyediakan anggaran kesehatan yang mulai dari penyediaan air bersih, sanitasi, hingga infrastruktur dasar lainnya.

"Apabila kita ingin menyiapkan tenaga kerja, kita tidak hanya untuk revolusi industri 4.0 tapi juga ingin mendapatkan tenaga kerja yang sehat, produktif, cerdas, maka investasinya harus mulai dari usia dini," ujar dia.

(hek/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed