Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 15 Jan 2019 12:21 WIB

Gara-gara Perang Dagang, Investasi China di AS Anjlok 83%

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Foto: BBC World Foto: BBC World
Jakarta - Ledakan investasi China ke Amerika Serikat hampir lenyap. Investasi asing dari China ke AS anjlok 83% pada 2018, menurut laporan yang dirilis oleh firma hukum Baker McKenzie.

Investasi langsung dari China ke Amerika turun drastis pada 2018 menjadi hanya $ 5,5 miliar atau setara dengan Rp 79 triliun (pada kurs Rp 14.500). Aset China lainnya senilai $ 12 miliar atau sekitar Rp 174 triliun di seluruh dunia juga diperkirakan akan dijual tahun ini.

Penguapan uang China di Amerika Serikat ditengarai penyebabnya adalah pembatasan yang diberlakukan oleh negeri tirai bambu pada investasi di luar negeri. Tren ini diperburuk dengan sikap AS yang telah memperketat dan mengkaji investasi asing, belum lagi dampak perang dagang AS-China.


"Orang China memborgol diri mereka sendiri untuk berinvestasi di luar negeri. Dengan munculnya peraturan dari Trump, Amerika Serikat seperti menaruh tanda "Tidak Dijual" di pintu depan (kepada China)," kata Scott Kennedy, direktur Proyek Bisnis dan Ekonomi Politik China di Pusat Studi Strategis dan Internasional, seperti dikutip dari CNN, Selasa (15/1/2019).

Padahal sebelumnya, investasi Tiongkok ke Amerika Serikat mencapai US $ 45,6 miliar atau setara Rp 661 triliun pada tahun 2016, tahun di mana raksasa asuransi HNA membelanjakan 25% sahamnya untuk mengakuisisi serangkaian hotel kelas atas.

Tetapi investasi asing langsung melambat menjadi US$ 29 miliar atau setara Rp 420 triliun pada tahun 2017. Ketika itu China memberlakukan pembatasan pada investasi luar negeri dalam upaya membendung arus modal keluar.

Investasi di Amerika Serikat kemudian menyusut menjadi hanya US$ 4,8 miliar atau setara dengan Rp 69 triliun tahun lalu di tengah tindakan keras Washington terhadap China. "Sebuah penurunan besar," ungkap Kennedy.



"Real estate, transportasi dan infrastruktur, investasi China di sektor-sektor ini "sebagian besar telah hilang," menurut laporan Baker McKenzie.

Sementara itu, para pejabat AS pun mengamati investasi Tiongkok dengan intensitas yang lebih besar. Komite Investasi Asing di Amerika Serikat telah menolak beberapa transaksi penting, termasuk tawaran Broadcom (AVGO) senilai US$ 117 miliar atau setara dengan Rp 1.696 triliun untuk Qualcomm (QCOM).

Hal ini terjadi setelah tahun lalu, Presiden Donald Trump menandatangani undang-undang yang memperluas kekuatan CFIUS (Committee on Foreign Investment in the United States) alias lembaga pengawas investasi asing. UU itu dapat memblokir transaksi luar negeri untuk tujuan keamanan nasional.

Namun, berbeda dengan AS, beberapa ekonomi besar, termasuk Perancis, Jerman, Spanyol dan Swedia, mengalami peningkatan investasi dari China menurut laporan Baker McKenzie.

Bahkan Kanada, memiliki investasi dari China yang melonjak 80% menjadi US$ 2,7 miliar Rp 39 triliun tahun lalu. Termasuk divestasi, Kanada menikmati lebih banyak investasi Tiongkok daripada Amerika Serikat pada 2018, kata Baker McKenzie.



Saksikan juga video 'Ketegangan Perang Dagang AS-China, Beijing Balas Naikkan Tarif':

[Gambas:Video 20detik]

(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed