Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 15 Jan 2019 20:45 WIB

Genjot Produksi Beras dan Tebu Kementan Modernisasi Pertanian

Robi Setiawan - detikFinance
Foto: Dok. Kementan Foto: Dok. Kementan
Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong transformasi pertanian dari tradisional ke pertanian modern. Dengan modernisasi target peningkatan produksi hasil pertanian dikatakan menjadi lebih visibel untuk diwujudkan.

"Modernisasi pertanian di antaranya dilakukan melalui mekanisasi, penggunaan benih unggul, peningkatan indeks pertanian, perluasan areal, jika manajemen korporasi sehingga efisien," ujar Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kuntoro Boga Andri dalam keterangan tertulis, Selasa (15/1/2019).

Kuntoro menjelaskan modernisasi pertanian adalah sebuah keniscayaan di tengah visi pemerintah untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Di antaranya peningkatan luas tanam padi secara tajam dapat dilakukan dengan upaya khusus (Upsus) padi jagung kedelai (Pajale).

"Hasil dari kebijakan tersebut adalah surplus padi dan jagung sudah bisa dicapai. Pada 2018 menurut data BPS (Badan Pusat Statistik), surplus beras 2,85 juta ton," tambahnya.


Ia menambahkan, pada 1984 Indonesia pernah mencapai swasembada beras. Padahal saat itu Indonesia masih mengimpor beras 414 ribu ton. Menurut FAO (1999), suatu negara dikatakan swasembada jika produksinya mencapai 90% dari kebutuhan nasional.

"Artinya Indonesia dalam 4 tahun terakhir sudah bisa berswasembada beras," terangnya.

Bukti cukupnya ketersediaan stok beras, lanjutnya, terlihat dari catatan BPS mengenai pengaruh inflasi yang jauh lebih terkendali sepanjang 2018, yakni sekitar 5,2% per tahun. Angka ini jauh lebih rendah dibanding dengan rata-rata laju kenaikan pada periode 2009-2013 sebesar 8,5% per tahun.

Sementara itu ia menjelaskan dalam upaya meningkatkan produksi dan produktivitas gula, berbagai upaya juga dilakukan. Di antaranya peremajaan kebun, varietas baru 140 ton per hektare, revitalisasi pabrik gula lama, dan membuka kebun di luar Jawa.

"Melalui upaya-upaya ini tahun 2018 produksi tebu mencapai 2,12 juta ton dari target 2,4 juta ton," jelas Kuntoro.


Pada sektor industri gula, pengembangan kebun tebu seluas 200 ribu hektare untuk memenuhi idle capacity pabrik gula existing, dan mendorong pengembangan lahan 500 ribu hektare untuk memenuhi kebutuhan bahan baku 14 pabrik gula baru. Pengembangan pabrik gula ini diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru bagi 3,87 juta jiwa.

Pada Desember 2018 harga gula Rp 11.850 per kilogram, harga gula pasir ini masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah yaitu Rp 12.500 per kilogram.

"Stok gula dipastikan aman karena hasil dari pengecekan di lapangan, minggu pertama Januari 2019, stok gula di pedagang juga cukup banyak dan harga di pedagang juga di bawah HET," pungkasnya. (prf/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed