Jual Gerabah Hingga Madu, Ekonomi Warga Desa di Borobudur Meningkat

Mustiana Lestari - detikFinance
Selasa, 22 Jan 2019 07:52 WIB
Foto: Mustiana Lestari/detikcom
Jakarta - Balai Ekonomi Desa atau Balkondes menjadi dobrakan BUMN untuk memacu denyut perekonomian masyarakat di daerah sekitaran Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Hal ini dilatarbelakangi masih rendahnya tingkat ekonomi masyarakat di wilayah tersebut, meski terdapat Borobudur yang menjadi sentral pariwisata dunia.

"Makanya kita diminta untuk bikin Balai Ekonomi Desa dengan harapan bisa menguatkan ekonomi di desa sekitar Borobudur. Kebetulan Bank Mandiri dapat di sini (Desa Kenalan)," jelas pendamping Balkondes Desa Kenalan, Diah Marthabudiningsih, di lokasi, Selasa (22/1/2019).

Sejak sekitar 2 tahun lalu, ada 20 desa yang sengaja dipilih untuk dihidupkan dan dibina BUMN. Beberapa Balkondes pun tercatat be gitu gencar memberikan pelatihan dan pembinaan untuk berbagai usaha untuk warga desa. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.


1. Anyaman Pandan Duri

Pandan duri yang hidup liar di depan perkarangan rumah warga Desa Kenalan menjadi sumber daya yang potensial belakangan ini. Ya, hal itu terjadi sejak sulur pandan sukses dimanfaatkan untuk anyaman berbagai kerajinan. Sejak lebih dari 1 tahun lalu, ibu-ibu di desa ini diberdayakan untuk membuat anyaman yang dijual per kilo. Anyaman ini bisa dibentuk sebagai tas, sajadah, tikar dan lain-lain.

"Sekilo anyaman dihargai Rp 25 ribu dijalin menjadi tas, lalu dijual ke Sentolo tempat pengrajin juga yang lebih besar. Kita di sini sudah dilatih selama 3 bulan namun kita belum berani untuk target yang lebih besar," jelas Ketua Kelompok Pandan Menoreh, Budi Rahayu, di kediamannya.

Dia berujar, dalam waktu 3 sampai 4 hari para pengrajin yang terdiri dari puluhan ibu rumah tangga ini bisa menghasilkan sekilo anyaman. Bahkan setiap ibu bisa memproduksi 5-7 kilo per bulan.

2. Gerabah

Selain anyaman pandan duri, gerabah juga jadi kerajinan yang dianggap potensial. Oleh karenanya, kerajinan gerabah ini gencar didampingi oleh Balkondes untuk terus dikembangkan. Supoyo, adalah salah satu pengrajinnya yang dibina oleh Balkondes Desa Karanganyar.

Pemilik Arum Art ini mengatakan setiap pegawainya bisa menghasilkan 100 gerabah per 2 hari dengan harga gerabah termurah Rp 2.000 hingga yang termahal Rp 2,5 juta.

"Saya sudah pemasaran sampai ke Sumatera. Biasanya promosi dari teman ke teman. Justru lebih cepat dari mulut ke mulut," sebut Supoyo.

Usaha yang didirikan sejak 2004 ini menghasilkan pendapatan kotor Rp 8 sampai 10 juta untuk Supoyo. Ilmu dan keuntungan ini tidak mau Supoyo nikmati sendiri. Makanya dia pun membuka pelatihan serta tenaga kerja esktra dari tetangganya untuk membantu jika ada pesanan besar.

"Mereka senang karena ada wisata jadi mereka mendapatkan sesuatu dari tamu-tamu kalau dia terlibat juga. Sudah ada bagiannya sendiri," terang dia.

3. Madu

Kesuksesan yang sama juga dirasakan pengusaha madu, Bambang Manon Suhisto sejak adanya pendampingan dari BUMN. Produksi madu Bambang berhasil meraih pasar bahkan hingga Singapura.

Jual Gerabah Hingga Madu, Ekonomi Warga Desa di Borobudur Meningkat Foto: Mustiana Lestari/detikcom

"Ternyata orang jauh pun datang ke sini. Orang Polandia, Amerika, Nigeria, Korea ke sini. Dia borong di sini. Menilai wilayah kita tuh bagus madunya dari lebah lokal jawa," jelas Bambang.

Bukan cuma dikenal di kalangan tamu mancanegara, Bambang juga meraup keuntungan yang lumayan dari hasil madu lebah hutan.

"Omzet 32-34 juta per tahun itu bersih. Dulu modal saya 1.500 itu, dengan papan 250. Lebahnya saya nangkap di hutan," tandas dia.


Sudah tahu ilmunya maka Bambang pun membuka berbagai pelatihan kepada wisatawan yang datang.

"Pelatihan buka setiap tahun. Yang belajar SD sampai perguruan tinggi baik dari petani maupun instansi. Biaya umum Rp 1,5 juta per hari per kelompok mulai jam 9 pagi sampai jam 4 sore. Khusus anak sekolah Rp 1 juta untuk 40-50 orang," papar warga Giri Tengah ini.

Segala usaha dari warga desa yang didorong oleh Balkondes pun diharapkan dapat mendorong kesejahteraan desa. "Kemajuan 1,5 tahun ternyata napas bagi desa. Itu dulunya desa tidak dikenal orang. Sekarang dikenal, dulu tidak tahu warga di luar seperti apa, kini mau menyesuaikan dengan keadaan, ekonomi terangkat," tutup Kepala Desa Kenalan, Kamidi. (ega/ang)