Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 22 Jan 2019 16:10 WIB

IMF Minta Negara Kurangi Utang, Sri Mulyani: Tidak untuk Indonesia

Hendra Kusuma - detikFinance
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Eduardo Simorangkir Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta - International Monetary Fund (IMF) menyarankan kepada seluruh negara untuk mengurangi utang pemerintahan untuk mengantisipasi pemangkasan pertumbuhan ekonomi dunia. Pengurangan utang disebut bisa memberikan ruang untuk melawan perlambatan ekonomi.

Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai bahwa pernyataan IMF tidak relevan bagi Indonesia. Pasalnya, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) masih jauh di bawah batas yang ditentukan.

"Jadi tidak relevan statement itu jika untuk Indonesia," kata Sri Mulyani usai acara A1 Inisiatif Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (22/1/2019).


Utang pemerintah tercatat per November 2018 sebesar Rp 4.395,6 triliun atau 29,91% terhadap PDB. Adapun, batas rasio utang pemerintah sesuai UU sebesar 60% terhadap PDB.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menjelaskan bahwa level defisit anggaran nasional pun sangat rendah yaitu 1,76% terhadap PDB.

"Kalau lihat negara lain yang debt to GDP rasionya diatas 60% tapi defisit bisa 2% seperti yang kemarin jadi sorotan Italia. Italia debt to GDP rasio di atas 100% tapi ingin defisit di atas 2,4 %, dan untuk negara-negara itu statement IMF jadi berlaku," kata Sri Mulyani.


Oleh karena itu, negara yang memiliki rasio utang tinggi yang dimaksud IMF untuk mengurangi utang pemerintah agar pertumbuhan ekonominya tetap bisa tumbuh.

"Negara seperti ini harus jaga keseimbangan fiskalnya dengan kurangi defisit, oleh karena itu kurangi utang. Bagaimana kurangi defisit dan utang yang buat growth melemah," ujar wanita yang akrab disapa Ani. (hek/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed