Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 22 Jan 2019 18:23 WIB

JK Bingung Ada Perusahaan Rugi, tapi Nilai Makin Tinggi

Noval Dhwinuari Antony - detikFinance
Foto: Wapres Jusuf Kalla (JK). (Noval-detikcom) Foto: Wapres Jusuf Kalla (JK). (Noval-detikcom)
Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengaku tak paham lagi mengenai tren bisnis saat ini. Dia bingung, perusahaan-perusahaan rintisan saat ini bisa semakin tinggi nilainya saat neraca keuangannya justru merugi.

"Bisnis sekarang ini, saya mulai bisnis kira-kira 50 tahun yang lalu. berhenti setelah 35 tahun, 20 tahun di pemerintahan. Saya tidak paham lagi cara berbisnis sekarang," katanya dalam acara Indonesia Development & Business Summit 'New Construction Opportunity 2019' di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (22/1/2019).

"Perusahaan rugi terus menerus, tetapi nilainya makin tinggi. Go-Jek tidak pernah mengumumkan berapa keuntungannya, Grab disubsidi terus, tapi nilainya makin tinggi, makin tinggi," lanjut JK.


Dia bilang, bisnis saat ini mengarah kepada penjualan data yang didapat dari orientasi pelanggan. Hal ini menurutnya akan bermuara terhadap monopoli bisnis di masa depan.

"Pebisnis seumuran saya tidak lagi paham. Tidak tahu lagi perusahaan rugi, nilai tinggi. orang mengatakan big data, ini menjual harapan juga, sehingga nanti muncul pada waktunya, dan kemudian di dunia ini cenderung menjadi monopoli. Yang mengatur kita di dunia ini hanya lima perusahaan di dunia ini. Apakah itu Google, Twitter, Facebook. Hanya lima perusahaan yang memonopoli kita," kata JK.

"Dulu monopoli antar negara sudah terjadi, sekarang menjadi sharing. semuanya itu menjadikan sebagai bagian dari kesediaan kita untuk memilih teknologi," tambahnya.

(eds/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed