Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 25 Jan 2019 11:00 WIB

RI Genjot Ekspor, Begini Kesiapan Infrastruktur Pelabuhannya

Saifan Zaking - detikFinance
Foto: Danang Sugianto Foto: Danang Sugianto
Jakarta - Defisit neraca perdagangan kumulatif Januari-Desember 2018 menjadi yang terparah sepanjang sejarah Indonesia mencatatkan kegiatan ekspor dan impor.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi ekspor Indonesia sepanjang 2018 mencapai US$ 180,06 miliar. Sementara impor di bulan yang sama tercatat US$ 188,63 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan RI sepanjang 2018 defisit US$ 8,57 miliar.

Mengatasi kondisi tersebut, butuh berbagai upaya dari pemerintah dan sejumlah pihak terkait untuk meningkatkan ekspor RI. Salah satu yang bisa ditempuh adalah peningkatan layanan kepelabuhan, guna memacu kinerja ekspor berbagai produk yang bakal diekspor ke luar negeri.




Pemerintah lewat sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pelabuhan pun terus berbenah. Salah satunya bisa dilihat dari sejumlah pelabuhan yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC.

"Fasilitas, mulai dari dermaga, kolam pelabuhan, lapangan penumpukan dan gudang, serta peralatan, khususnya peralatan bongkar-muat baik di lini 1 dan lini 2, serta plug untuk kontainer, saya kira sudah cukup baik. Begitu pula akses dari dan ke pelabuhan baik di perairan dan daratan sudah cukup baik," tutur Pengamat Maritim dari Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya Saut Gurning, Kamis (24/1/2018).

Dampaknya, sejumlah pelabuhan seperti Pelabuhan Tanjung Priok kini bisa disandari kapal angkut berukuran yang lebih besar sehingga lebih banyak produk yang bisa diangkut, yang pada akhirnya diharapkan bisa memenuhi tujuan pemerintah meningkatkan kapasitas ekspor demi memulihkan kembali neraca dagang yang saat ini masih defisit.

"Berbagai armada kapal dari bertipe besar dan kecil seperti tongkang juga banyak yang mampu melakukan angkutan kontainerisasi di masa saat ini," jelasnya.




"Hal ini dipengaruhi rasio kontainerisasi yang terus menarik, dorong rantai suplai yang berbasis kemasan kontainerisasi dan daya dukung inventori dan peralatan yg juga mendorong pola operasi kontainerisasi," sambung dia.

Hanya saja, memang saat ini masih ditemui sejumlah hambatan terkait kemacetan di pintu masuk pelabuhan, atau koordinasi dengan instansi terkait.

Hal ini bisa menghambat upaya percepatan proses bongkar muat di pelauhan. Saut Gurning menjelaskan, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah bagaimana fasiltias perdagangan khususnya kontainer dari dan ke sejumlah terminal kontainer di lingkungan IPC dapat lebih meningkat dari tahun sebelumnya.

"Upaya memfasilitasi kegiatan perdagangan di semua terminal kontainer IPC perlu diperkuat terus, agar layanan teknis semakin cepat, efisien dan lebih aman," ujarnya.

Terkait kendala atau permasalahan untuk mencapai target tersebut, katanya, adalah persoalan bagaimana semua pola jasa di terminal kontainer khususnya secepatnya menerapkan mekanisme digitalisasi dari proses perencanaan, eksekusi, pembayaran dan evaluasi.

"SLA dan SLG perlu menjadi indikator pencapaian termasuk kepuasan pelanggan atas layanan-layanan terminal kontainer di IPC. Koordinasi dengan haulier, shipping, agent, forwarder, PBM dan pemilik barang perlu lebih intens dilakukan," tandasnya.




IPC sendiri menargetkan arus peti kemas (kontainer) pada 2019 mencapai 7,57 juta TEUs naik 2,4% dibandingkan 2018. Sementara arus non peti kemas ditargetkan mencapai 73,27 juta ton, naik 29 persen dibandingkan 2018.

Sementara, pada tahun lalu, arus petikemas yang keluar masuk pelabuhan-pelabuhan IPC mencapai 7,39 juta TEUs. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com