Gara-gara Masalah BBM, Direksi Pertamina Dapat 'Surat Cinta'

Gara-gara Masalah BBM, Direksi Pertamina Dapat 'Surat Cinta'

- detikFinance
Selasa, 13 Sep 2005 12:04 WIB
Jakarta - Maraknya penyelundupan dan penjarahan BBM membuat Meneg BUMN Sugiharto berang. Ia pun melayangkan 'surat cinta' kedua untuk direksi Pertamina. "Kita kemarin telah melakukan rapat pimpinan di kementerian untuk menegur direksi, sekaligus untuk me-review apakah ini bisa dijadikan alasan untuk meninjau kembali posisi direksi," tegas Sugiharto.Ia menyampaikan hal itu usai peresmian Sentra Investasi Danareksa PT SID di Kompleks Puri Indah, Jakarta, Selasa (13/9/2005).Surat teguran pertama pernah dikirimkan Sugiharto kepada direksi Pertamina terkait kelangkaan BBM beberapa waktu lalu. Sugiharto menilai direksi Pertamina telah gagal melakukan pengawasan serta pengendalian sehingga terjadi penjarahan dan penyelundupan BBM. Penjarahan tersebut, tegas Sugiharto, menjadi bukti kegagalan dan lemahnya pengawasan sehingga membuktikan kualitas direksi tidak seperti yang diharapkan masyarakat luas. Sugiharto juga menegaskan tidak tertutup kemungkinan semua direksi Pertamina akan diganti, tidak hanya dirutnya. "Kita akan melihat dulu kasus per kasusnya apakah ini ketidakmapuan membangun sistem dan direksi atau memang perilaku dari orang-orang di bawahnya. Jadi bisa saja semuanya," ujar Sugiharto. Ia juga mempertanyakan keputusan direksi Pertamina yang telah membangun sistem pengawasan dan menghabiskan dana US$ 10 juta. "Kalau di perusahaan minyak, ada sistem on real time. Dan di Pertamina sudah diterapkan pembangunan establish system yang menghabiskan US$ 10 juta. Namun sampai sekarang program ini tidak berjalan," tegas Sugiharto.Mantan direktur keuangan Medco ini menambahkan, pihaknya akan melihat apakah ada unsur kesengajaan dari Pertamina dalam membangun sistem yang tidak handal tersebut. "Nanti akan kita lihat dan teliti," tandasnya.Sugiharto menilai, masalah penyelundupan dan penjarahan BBM tidak terlepas dari tanggung jawab direksi. Hal ini juga membuktikan bahwa etos kerja dan kultur Pertamina yang buruk sehingga terjadi KKN berjamaah. "Sebenarnya sudah sejak dulu kita mengetahui adanya penyelundupan dan penjarahan seperti ini. Tapi sepertinya seakan dibiarkan sehingga terjadi terus menerus," kata Sugiharto berang. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads