ESDM Minta Rp 75 M untuk Pengembangan Briket Batu Bara
Selasa, 13 Sep 2005 13:25 WIB
Jakarta - Dalam rangka mengembangkan produksi batu bara, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta kepada Departemen Keuangan (Depkeu) untuk memberikan insentif sebesar Rp 75 miliar.Insentif itu rencananya akan diberikan kepada perusahaan tambang plat merah PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk (PTBA), yang memang sudah memiliki pabrik khusus briket batu bara di Tanjung Enim Sumatera Selatan dan Gresik. Dipilihnya PTBA sesuai dengan rekomendasi DPR. Pasalnya, meski telah memiliki pabrik, produksi PTBA hanya sepersepuluh dari kapasitas produksinya akibat ketiadaan dana."Surat pengajuannya sudah diserahkan sebulan lalu dan sekarang tinggal menunggu keputusan dari Menkeu," kata Dirjen Mineral Batu Bara dan Panas Bumi Simon Sembiring di sela acara rapat internal ESDM di ruang Bima Gedung Bidakara Pancoran, Jakarta, Selasa (13/9/2005).Potensi briket batu bara, menurut Simon, cukup besar dengan kapasitas produksi mencapai 120.000 ton per tahun. Sayangnya, produksi yang bisa dihasilkan saat ini hanya sebesar 22.000 ton per tahun.Minimnya produksi briket karena produk turunan batu bara ini tidak bisa bersaing dengan harga BBM. Pasalnya, harga BBM terutama minyak tanah yang masih murah membuat briket hanya menjadi pilihan kedua. Harga briket batu bara tidak begitu jauh dengan minyak tanah. Saat ini harga briket batu bara sebesar Rp 400 per kilogram dan minyak tanah sebesar Rp 700 per liter. Menurut Simon, pengembangan briket batu bara akan menjadi kompetitif jika harga minyak tanah sesuai dengan harga pasar dan ada insentif Rp 500 per kilogram untuk briket batu bara."Dengan harga briket batu bara Rp 400 sampai Rp 500 per kilogram maka produsen tidak dapat untung," kata Simon.Simon menjelaskan, meski sosialisasi penggunaan briket batu bara terus berjalan, namun belum banyak konsumen yang beralih ke produk itu. Menurutnya, selama harga minyak rendah maka sulit untuk briket batu bara bersaing.Saat ini 65 persen pengguna briket batu bara adalah peternak ayam sebagai pengganti minyak tanah. Sisanya digunakan untuk pengeringan teh, tembakau, dan genteng sebagai pengganti kayu bakar.
(ir/)











































