Bulog Siapkan 2 Skema Impor Beras

Bulog Siapkan 2 Skema Impor Beras

- detikFinance
Rabu, 14 Sep 2005 12:40 WIB
Jakarta - Badan Urusan Logistik (Bulog) menyiapkan dua skema impor beras sebanyak 250 ribu ton yang akan dilakukan lewat government to government (G to G) melalui counter trade (imbal dagang) atau tender internasional.Impor beras itu akan dilakukan secara bertahap selama periode Oktober 2005 sampai Januari 2006 sebanyak 75 ribu ton per bulan. Demikian diungkapkan oleh Dirut Bulog Widjanarko Puspoyo di sela acara rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (14/9/2005).Diakui Widjanarko, keputusan pemerintah yang membolehkan Bulog melakukan impor beras memang ada yang tidak senang. Namun dia berharap kebijakan ini dilihat secara realistis dengan perkembangan pasar. "Jangan pentingkan ego sektoral, bahkan BPS (Biro Pusat Statistik) sudah merekomendasikan impor beras," ujarnya.Widjanarko mengingatkan, kenaikan BBM pada awal Oktober 2005 akan meningkatkan gejolak di tingkat konsumen yang juga harus diantisipasi karena menjelang hari raya. Akibatnya, jika persediaan beras minim, akan membuat harga melambung. Karena itu impor beras ini juga dimaksudkan untuk mengamankan stok beras nasional. Keputusan mengimpor beras, menurut Widjanarko, karena harga beras saat ini sedang tinggi. Rata-rata di beberapa daerah telah mendekati Rp 3.500 per kilogram. Pada awal September 2005 harga beras medium mencapai Rp 3.399 per kilogram. Harga beras ini tidak pernah turun sejak Januari 2005.Impor beras yang dilakukan Bulog, dipastikan Widjanarko, tidak akan mengakibatkan distorsi harga di pasar. Pasalnya, beras impor selama ini tidak pernah masuk ke pasar, karena lebih ditujukan untuk beras rakyat miskin (raskin), bencana alam dan daerah rawan pangan."Beras impor ini masuknya tidak ke Pulau Jawa tapi ke daerah sentra nonberas, seperti Bitung, Kaltim, Medan dan Papua," kata Widjanarko.Kalaupun dilepas ke pasar, baru akan dilakukan jika disetujui pemerintah dengan bentuk operasi pasar. Menurut Widjanarko, operasi pasar baru akan dilakukan jika harga beras sudah mencapai Rp 3.500 per kilogram.Sampai awal September 2005 stok beras Bulog sekitar 1,6 juta ton, sudah termasuk kebutuhan penyaluran raskin yang per bulannya mencapai 180 ribu ton. Sedangkan hingga akhir Desember 2005, Bulog harus menyalurkan beras sebanyak 720 ribu ton, sehingga sisa stok sebesar 900 ribu ton."Jumlah ini belum termasuk untuk persiapan raskin tahun 2006 yang kemungkinan lebih tinggi dari tahun 2005," kata Widjanarko. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads