Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 04 Feb 2019 12:29 WIB

Darmin Kumpulkan Pejabat Bahas Studi Kelapa Sawit

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Foto: dok. GAPKI Foto: dok. GAPKI
Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengundang sejumlah pejabat dalam rangka rapat koordinasi mengenai kelapa sawit dan keanekaragaman hayati.

Rapat tersebut membahas hasil studi dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), yang menyebutkan bahwa kelapa sawit dapat menjadi sumber daya paling efektif untuk mendapatkan minyak nabati.

"Kelapa sawit adalah produk perkebunan yang paling produktif menghasilkan minyak nabati, untuk produksi 1 ton minyak nabati, kelapa sawit hanya butuh 0,26 hektar lahan. Di pihak lain 1 ton minyak nabati butuh tanah 1,43 hektar untuk bunga matahari, bahkan kedelai butuh 2 hektar lahan untuk satu ton minyak," ungkap Darmin, di kantornya, Senin (4/2/2019).




Pasalnya, menurut Darmin terlalu banyak yang masih memandang negatif kelapa sawit sebagai sumber daya.

Hasil dari penelitian IUCN sendiri menyebutkan bahwa pada 2050 diperkirakan kebutuhan minyak nabati dunia sebesar 310 juta ton.

Kelapa sawit sendiri berkontribusi dijadikan minyak nabati sebanyak 35% dari kebutuhan minyak nabati di dunia, dengan proporsi penggunaan sebesar 75% industri pangan, dan 25% untuk industri kosmetik, produk pembersih, dan biofuel.




Peneliti IUCN, Erik Meijaard mengatakan bahwa apabila kelapa sawit terus dilarang maka akan butuh lebih banyak lahan untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati. Sedangkan, lebih banyak membuka lahan akan semakin banyak dampak lingkungan yang terjadi.

"Separuh dari populasi dunia menggunakan minyak kelapa sawit dalam bentuk makanan, dan jika kita larang atau boikot. Maka minyak nabati lainnya yang membutuhkan lahan lebih banyak, akan menggantikan kelapa sawit," kata Erik Mejiaard, peneliti IUCN.

Menurut agenda yang diterima detikFinance, rapat koordinasi dimulai sekitar pukul 09.00. Darmin mengundang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Luar Negri, dan Kementerian Dalam Negri, dan Peneliti IUCN. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com