Jelang Kenaikan Harga
Pertamina Kena Rush BBM
Kamis, 15 Sep 2005 12:25 WIB
Jakarta - Menjelang kenaikan BBM pada awal Oktober mendatang, Pertamina kena rush BBM. Hal itu menyebabkan terjadinya antrean panjang BBM di sejumlah daerah.Namun Dirut Pertamina Widya Purnama membantah terjadinya kelangkaan BBM di sejumlah daerah, meski terdapat antrean panjang. "Kita heran kok banyak atrean. Tapi setelah dicek ke lapangan, kelangkaan tidak ada. Tetapi memang antrean panjang," kata Widya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Kamis (15/9/2005).Widya menambahkan, antrean panjang tersebut muncul karena panic buying. Namun ia menilai hal tersebut sebagai hal yang biasa mengingat harga BBM akan dinaikkan pada Oktober ini. "Orang sudah tahu berapa harga yang akan dijual pada 1 Oktober sehingga ini juga membuat panic buying. Kalau kenaikan diumumkan semalam sebelumnya, antrean pun ada," ujar pria yang sering bicara blak-blakan ini.Rush tersebut telah menyebabkan kuota harian atau daily off take Pertamina akhir-akhir ini melebihi kuota bisanya. Jika pada kondisi normal kuota harian hanya 172 ribu kiloliter, namun akibat rush, kuota harian mencapai 184 ribu kiloliter. "Itu sudah mencapai kuota yang 65 juta kiloliter. Hari ini bisa mencapai 194 ribu. Ini kenaikan yang luar biasa. Apa pun yang kita gerojokkan hari ini akan ada antrean," tegas mantan Dirut Indosat ini.Widya menambahkan, antrean panjang BBM juga disebabkan karena banyaknya orang yang alih profesi menjadi penjual minyak. "Di beberapa daerah banyak ibu-ibu yang sekarang ikut menjual minyak dengan harga yang lebih tinggi," ujar Widya.Hal tersebut diamini oleh Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Arie Soemarno. Dia juga menambahkan, Pertamina sudah mendapat pasokan untuk masing-masing komponen BBM yakni masing-masing premium 11,7 persen, solar 6,2 persen, minyak tanah 10,6 persen dari kuota harian Pertamina. Ia menjamin stok BBM akan tetap aman seperti saat ini yakni untuk 22,6 hari. Namun ia juga mengaku Pertamina kewalahan menghadapi hal ini. "Barangnya ada, cuma kita dibatasi oleh UU APBN," tegas Arie.Ditambahkan, saat ini juga banyak terjadi penyalahgunaan BBM yang lolos ke sektor industri. "Lihat di Kalimantan Selatan. Semua truk batu bara yang harusnya bayar industri ikut ngantre. Itu ditertibkan sulit, jadi terjadi perpindahan konsumsi," katanya.
(qom/)











































