Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 15 Feb 2019 16:10 WIB

Jelang Debat Pilpres

Balada Stok Beras dan Jagung: Katanya Cukup, Eh Malah Impor

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Deny Prastyo Utomo/detikcom Foto: Deny Prastyo Utomo/detikcom
Jakarta - Pemerintahan di bawah Presiden Joko Widodo (Jokowi) dipenuhi dengan polemik impor pangan untuk beras dan jagung. Sebab, pemerintah mengakui adanya panen yang cukup namun ujung-ujungnya impor lagi.

Kementerian Pertanian memprediksi adanya panen di tahun 2018 sebanyak 49,29 juta. Padahal, kebutuhan masyarakat hanya sebesar 30,37 juta ton. Artinya, ada surplus sebanyak 18,92 juta ton.

"Produksi padi tahun 2018 sebanyak 48,29 juta ton, lebih besar dibandingkan konsumsi sebesar 30,37 juta ton. Artinya produksi beras masih surplus," jelas dia di Kementan, Senin (1/10/2018) lalu.


Tak berselang lama, pada 25 Oktober 2018 Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data produksi beras 2018 yang angkanya berbeda dengan milik Kementan. Dalam data tersebut tercatat surplus sebanyak 2,85 juta ton.

"Produksi kita tahun ini 32,4 juta ton. 6Konsumsi 29,6 juta ton. Jadi sebenarnya masih ada lebih 2,85 juta ton," Papar Darmin di Kemenko Perekonomian.

Nyatanya, data surplus tersebut tak pernah ada. Sebab, sepanjang 2018 pemerintah menugaskan Perum Bulog untuk mengimpor beras sebanyak 2,8 juta ton dari izin kuota sebanyak 3 juta ton.

Selain itu, kejadian ini juga terjadi pada komoditas jagung. Data produksi tidak mampu memenuhi kebutuhan jagung untuk pakan ternak. Alhasil ini berdampak pada harga telur dan daging ayam.

Kementan mengklaim produksi jagung 2018 diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering (PK). Sedangkan kebutuhan hanya sebesar 15,5 juta ton yang untuk pakan 7,76 juta ton. Artinya ada surplus sebesar 4,5 juta ton.

Lagi-lagi, data ini tak sesuai dengan kenyataan. Sebab, harga telur dan daging ayam mengalami peningkatan akibat harga jagung yang merupakan bahan utama pakan ternak meningkat.

Pemerintah pun di tahun 2018 memutuskan untuk mengimpor jagung sebanyak 100 ribu ton. Jagung tersebut dijual untuk para peternak mandiri dengan harga Rp 4.000 per kilogram (kg).

Sementara itu, persoalan tersebut masih belum terselesaikan hingga saat ini. Pemerintah pun menambah lagi izin impor sebanyak 30 ribu ton di Februari dan tanpa kuota di Maret 2019. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed