Sugiharto Nilai Internal Kontrol Pertamina Masih Lemah
Jumat, 16 Sep 2005 17:46 WIB
Jakarta - Sistem internal kontrol pembelian BBM oleh Pertamina belum berjalan. Lemahnya sistem ini mengakibatkan terjadinya kasus dugaan mark up pembelian solar oleh Pertamina.Padahal untuk pengadaan sistem yang disebut sistem SAP itu menelan dana hingga US$ 10 juta. Pertamina pun bahkan sudah melatih sekitar 30 orang karyawannya."Berdasarkan pengalaman riil saya, sistem SAP itu bisa mengcapture ketidakberesan di lini sampai ke bawah," kata Menneg BUMN Sugiharto di Gedung Depkeu, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (16/9/2005).Namun Sugiharto mengakui dirinya belum mengkaji sejauh mana ketidakpatuhan direksi Pertamina terhadap sistem tersebut. Yang kini menjadi perhatian adalah bagaimana pemisahan Pertamina sebagai kontraktor minyak yang harus memiliki laba dan Pertamina yang memiliki kewajiban Public Service Obligation (PSO)."Sebab harus dipisahkan mana yang sesungguhnya Pertamina sebagai entitas bisnis harus untung sebagaimana kontraktor minyak yang lain. Tetapi ada fungsi lain yakni PSO yang dibebankan oleh pemerintah. Sekarang agak mix antara tugas Pertamina dengan tugas PSO," papar Sugiharto.Menyusul dugaan mark up ini, Menneg BUMN sudah mengirimkan surat teguran kepada Pertamina, hari Senin (12/9/2005) lalu. Dalam suratnya, Sugiharto meminta Pertamina mengklarifikasi mengenai kasus penyelundupan BBM di Terminal Lawe-lawe Balikpapan dan soal tata niaga solar."Saya kira mereka sedang mempersiapkan jawaban. Ini juga merupakan assessment terhadap kinerja mereka," jelasnya.Mengenai pergantian direksi Pertamina, Sugiharto mengaku akan membahasnya dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono setelah tiba di tanah air. "Saya akan minta petunjuk kepada beliau," katanya singkat.
(qom/)











































