Pasokan Rotan Domestik Dijamin Meski Keran Ekspor Dibuka

Pasokan Rotan Domestik Dijamin Meski Keran Ekspor Dibuka

- detikFinance
Sabtu, 17 Sep 2005 15:56 WIB
Jakarta - Meski belum terbukti, sejumlah pihak menjanjikan pasokan rotan untuk kebutuhan pengrajin domestik aman, walaupun keran ekspor rotan setengah jadi telah dibuka. Ekspor rotan hanya dialokasikan sebesar 5.000 ton per bulan. "Saya jamin sebagai Ketua Badan Kerja Sama Pembangunaan Sulawesi, untuk pasokan dalam negeri diutamakan," kata Fadel Muhammad yang juga menjabat Gubernur Gorontalo, di sela acara pembukaan Sulawesi Expo 2005 di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (17/9/2005).Fadel menjanjikan hal tersebut karena Sulawesi merupakan produsen rotan terbesar rotan. Menurutnya, jika ada sisa rotan yang tidak diserap pasar domestik sebaiknya diekspor. "Karakteristik rotan bila tidak digunakan dalam empat tahun akan rusak, maka sebaiknya diekspor saja karena tidak diserap di dalam negeri," ujarnya.Menurut Fadel, di Sulawesi ada 300 ribu petani rotan dan saat ini terdapat stok yang menumpuk sebanyak 3.500 ton. Alokasi ekspor per tahun diperkirakan hanya sebesar 50 ribu ton. Sedangkan kebutuhan lokal sebesar 70.000 ribu ton per tahun. "Sehingga kami akan menggenjot produksi 120 ribu dalam setahun," katanya. Saat ini negara-negara yang sudah menyatakan keinginannya terhadap rotan Indonesia adalah Singapura dan Filipina yang membutuhkan rotan sebanyak 10 ribu ton. Harga jual ekspor juga lebih mahal 25 persen dibanding di dalam negeri. "Realisasi ekspor akan dilakukan bulan Oktober ini karena sekarang masih menyusun petunjuk pelaksana (juklak)," ujar Fadel. Realiasasi ekspor rotan setengah jadi dilakukan setelah keluarnya Peraturan Menteri Perdagangan No 5/2005 yang memperbolehkan ekspor rotan setengah jadi. Pro kontra ekspor rotan ini terus muncul, bahkan sejumlah pengusaha mebel rotan melakukan aksi protes. Pasalnya, ekspor rotan setengah jadi akan membuat perajin sulit mendapatkan bahan baku rotan untuk dijadikan mebel.Sedangkan Asosiasi Pengusaha Rotan Indonesia (APRI) menilai, bahan rotan banyak yang tersisa sehingga bisa disalurkan untuk kebutuhan pasar internasional. Mereka meminta agar rotan setengah jadi diizinkan untuk diekspor karena harga di luar lebih menguntungkan. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads