Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 20 Feb 2019 11:04 WIB

Perusahaan Jepang Menyesal Tanam Modal di Inggris

Zulfi Suhendra - detikFinance
Foto: DW (News) Foto: DW (News)
Jakarta - Perusahaan-perusahaan Jepang mulai hilang kesabaran terhadap Inggris. Musababnya adalah bayang-bayang Brexit yang kian jadi kenyataan.

Dikutip dari CNN Business, Rabu (20/2/2019), akibat Brexit, sejumlah perusahaan Jepang mulai menutup pabrik dan mem-PHK karyawannya. Paling anyar adalah Honda yang mulai mengurangi tekanan terhadap perekonomian Inggris. Mereka mengumumkan akan menutup pabrik mereka satu-satunya di Inggris pada 2021 nanti. Diperkirakan akan ada 3.500 orang di-PHK.

Soal rencana ini, perusahaan sebenarnya membantah disangkutpautkan dengan Brexit. Tapi pengamat industri mengatakan ketidakpastian terhadap akses pasar di masa depan dan risiko tarif pasti menjadi faktor penyebabnya.


Langkah Honda ini mengekor apa yang sudah dilakukan pabrikan Jepang lainnya, yaitu Nissan yang lebih dulu membatalkan pembuatan mobil jenis SUV di Inggris Utara. Perusahaan Jepang lain, Sony dan Panasonic mengatakan bahwa mereka akan memindahkan basis legal mereka karena Brexit.

Pejabat Jepang kesal setelah peringatan bertahun-tahun terhadap risiko yang akan terjadi karena Brexit.

"Di Jepang, setiap orang profesional yang saya ajak bicara merasa bingung oleh Brexit," kata Paul Bacon, seorang profesor di Universitas Waseda Tokyo yang berspesialisasi dalam hubungan Jepang dengan Eropa.

"Di sini jelas betapa ekonomisnya kerusakan itu, dan juga menciptakan kesulitan besar bagi industri Jepang," katanya.


Inggris direncanakan akan keluar dari Uni Eropa dalam kurun waktu kurang dari 40 hari. Namun Perdana Menteri Theresa May gagal mengamankan dukungan dari parlemen soal rencana dia.

Hal itu membuat kesal pebisnis dan pejabat Jepang yang terus meminta jaminan pada pejabat Inggris untuk meminimalisir dampak negatif dari Brexit.

Perusahaan Jepang sudah mengguyur miliaran dolar terhadap ekonomi Inggris. Lebih dari 1.000 perusahaan Jepang menjalankan bisnis di Inggris, dan menyerap 140.000 tenaga kerja, menurut data terakhir dari pemerintahan Jepang.

Kebanyakan perusahaan itu menjadikan Inggris sebagai landasan di Eropa. Tapi bila Inggris jadi keluar dari Eropa. "Tak masuk akal jika mereka (perusahaan Jepang) tetap menjadikan Inggris sebagai basis," tutur Bacon.


Saksikan juga video 'May Galau Soal Brexit':

[Gambas:Video 20detik]

(zlf/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed