Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 25 Feb 2019 20:30 WIB

AXA Mandiri Garap Pasar Asuransi Penyakit Kritis

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: AXA Mandiri Foto: AXA Mandiri
Jakarta - Pertumbuhan kelas menengah serta kesadaran akan kesehatan yang semakin tinggi, menjadi peluang bagi perusahaan-perusahaan asuransi kesehatan. Tak jarang pula, banyak orang memilih berobat ke luar negeri. Data yang dirilis Indonesia Services Dialog (ISD), setiap tahun setidaknya ada Rp 100 triliun yang dibelanjakan orang Indonesia untuk layanan kesehatan di luar negeri.

Presiden Direktur PT AXA Mandiri Financial Services, Handojo G. Kusuma, mengungkapkan pihaknya akan fokus menggarap kepesertaan asuransi untuk penyakit-penyakit kritis seperti serangan jantung, kanker, dan sebagainya. Teranyar, pihaknya baru mengenalkan layanan kesehatan eksklusif untuk nasabah dengan premi di atas Rp 100 juta.

"Kalau dari VIP costumer ini sendiri sekarang yang sudah qualified untuk mendapatkan fasilitas ini (layanan kesehatan eksklusif) ada sekitar 18 ribu nasabah. Tetapi terus akan berkembang karena kita juga sebentar lagi akan menunjukkan produk-produk untuk asuransi kesehatan, critical illness dan sebagainya," jelas Handojo di Jakarta, pekan lalu.

Menurutnya, ada kecenderungan perawatan terhadap penyakit kritis di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa asuransi kesehatan saat ini, belum bisa men-cover biaya perawatan untuk penyakit-penyakit kritis.


"Jadi yang pertama itu ada perlindungan bentuk proteksi, itu ada asuransi kecelakaan, asuransi kesehatan yang ada paket fasilitas cashless yang juga ada fasilitas ke sini untuk paket limited itu. Terus kita ada juga perlindungan penyakit kritis, itu juga kan sudah mulai populer di masyarakat Indonesia ya," terang Handojo.

"Target kita kan sebenarnya ingin tetap besar, tetap tumbuh ya. Nah karenanya kita justru meningkatkan inovasi kita di pelayanan, produk, inovasi pendekatan ke nasabah. Intinya kalau dilihat pasar asuransi sendiri kan menjanjikan. Tapi tergantung bagaimana kita mendekatkan diri ke costumer. Karena kan persaingan juga makin ketat ya. Kita harus bisa memberikan value yang lebih," tambahnya.


Lanjut Handoko, jika mengacu pada survei yang dilakukan Mercer Marsh Benefits di tahun 2018, menyebutkan bahwa biaya rumah sakit termasuk ruang operasi, ruang rawat inap, dan biaya sewa peralatan rawat inap, merupakan ongkos termahal dalam komponen total biaya pengobatan atau mengambil porsi sekitar 21%.


Selain itu, survei tersebut juga menyebutkan kalau peningkatan biaya pengobatan Indonesia pada tahun lalu sebesar 12,6%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya pengobatan di Malaysia sebesar 12,5%, Singapura 9,1%, dan rata-rata negara di Asia sebesar sekitar 10%. (ega/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed