Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 02 Mar 2019 12:23 WIB

Melirik Usaha Jastip yang Kian Ramai Digandrungi

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Freepik Ilustrasi/Foto: Freepik
FOKUS BERITA Dapat Cuan dari Jastip
Jakarta - Bisa jalan-jalan sambil belanja gratis, siapa yang tak mau? Hal inilah yang biasa dilakukan oleh para pelaku bisnis jastip atau jasa titip yang lagi ngetren di kalangan milenial.

Apa sih Jastip? Jastip merupakan peluang usaha untuk membelikan barang pesanan yang diminta oleh pengguna jasa. Biasanya, Jastip memanfaatkan teknologi atau media sosial untuk menawarkan jasa pembelian barang.

Peluang ini juga yang dimanfaatkan oleh Dila, bukan nama sebenarnya, untuk bisa meraup pundi-pundi rupiah. Berawal dari hobinya hanya sekadar jalan-jalan, perempuan asal Bandung itu iseng menawarkan Jastip ke teman-temannya.

"Tadinya ini lebih ke iseng-iseng doang, sampingan. Karena memang senang saja jalan-jalan, ada satu sisi saya yang memang cewek banget, kalau misalnya lagi nggak punya duit, terus cuma jalan-jalan, nggak shopping tapi happy," kata Dila kepada detikFinance, Jakarta, Sabtu (2/3/2019).

Di awal-awal sebagai Jastip atau sekitar 2016 lalu, Dila juga tak memungut biaya untuk kegiatannya. Karena, kata dia, Jastip ini saat itu tak diniatkan untuk mengambil untuk dari teman-temannya.

"Jadi saya cuma jalan-jalan ke mana. Terus gue bilang ke teman-teman 'eh gue lagi di sini, mau nitip apa nggak?', 'Eh di sini ada diskon ini, ada yang mau nggak?' chat di grup, kasih tahu ke yang lain. Tapi dulu nggak ada niat untuk diduitin, cuma niat beliin saja," kata Dila.

Tapi lama kelamaan, Dila berpikir, kalau Jastip tapi tak menarik biaya bisa rugi karena harus membawa den membeli barang orang lain terus-menerus. Dari situ baru akhirnya Dila menarik biaya atas Jastip yang dilakoni.

Contohnya seperti Jastip untuk pameran buku Big Bad Wolf (BBW) yang digelar di ICE BSD, Tangerang Selatan. Dila mengaku tak pernah melewatkan acara yang digelar tahunan tersebut.


"Untuk yang BBW ini malah sudah masuk tahun ketiga. Tahun ini juga berangkat," katanya.

Dila sendiri mengaku usaha Jastip ini bukan menjadi penghasilannya yang utama. Tapi, kata Dila, Jastip ini juga sulit untuk disebut sebagai usaha sampingan, karena sudah rutin dilakukan.

"Disebut sampingan juga enggak, tapi sebulan dua bulan sekali juga berangkat," katanya.

Sementara untuk biayanya Jastip-nya sendiri, Dila mematok 5-10% dari harga barang yang dititipkan si pengguna jasa. Menurutnya, besaran biaya yang dipungutnya itu dinilai cukup wajar dan menguntungkan.

Tak berbeda jauh dengan Dila, Rina yang pelaku usaha Jastip awalnya hanya sekadar iseng membelikan barang untuk teman-temannya. Tapi, kini ia mulai mematok biaya untuk Jastip tersebut.

"Dulu awalnya cuma iseng doang, karena kalau lagi pergi banyak yang suka nitip.

Dia bilang, hanya dengan bermodalkan handphone dan Instagram Stories, usaha Jastip sudah bisa dilakukan. Lebih dari itu, kata Rina, modal yang paling penting dalam menjalani bisnis Jastip ini ialah tak gampang lelang.

"Jadi cuma tawarin di Instastory saja sambil foto barangnya, 'Ada yang nitip beli ini nggak?' begitu contohnya, atau 'Lagi di sini, ada yang mau titip?' gampang. Yang penting cuma jangan gampang capek, soalnya jalan-jalan kerjaannya," tuturnya.

(fdl/fdl)
FOKUS BERITA Dapat Cuan dari Jastip
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com