Pertumbuhan 6% Tahun 2006 Sulit

Chatib Basri:

Pertumbuhan 6% Tahun 2006 Sulit

- detikFinance
Selasa, 20 Sep 2005 19:02 WIB
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi sebesar 6-6,2 persen yang ditargetkan dalam RAPBN 2006 diyakini akan sulit untuk dipenuhi. Pada tahun depan, setidaknya ada dua masalah yang akan menghadang pertumbuhan ekonomi. "Tingkat bunga pasti akan punya dampak pada investor. Dan energi cost yang tinggi akan berakibat pada pertumbuhan. Kalau naiknya energi cost sampai 50 persen, akan ada beban yang harus ditanggung kecuali kalau ada kompensasi pengurangan biaya tinggi," kata pengamat ekonomi Chatib Basri. Ia menyampaikan hal tersebut di sela-sela seminar bertajuk 'Pasar Reksa Dana Indonesia dalam Persepektif International' di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (20/9/2005).Pemerintah akhirnya merevisi asumsi baru dalam RAPBN 2006 yakni pertumbuhan ekonomi 6-6,2 persen, nilai tukar Rp 9.500-10.000 per dolar AS, inflasi 7-8 persen, SBI tiga bulan 8,25-10 persen. Sementara produksi minyak tidak diubah tetap 1,075 juta barel.Menurut Chatib, untuk pengurangan biaya tinggi bisa dilakukan antara lain dalam bidang logistik melalui penurunan terminal handling cost dan penghilangan pungutan di jembatan timbang. Tarif impor juga diturunkan sehingga memudahkan bagi industri yang mengimpor bahan baku. Dijelaskan, PPnBM juga harus diturunkan untuk menurunkan ekonomi biaya tinggi. "Kalau tidak dilakukan, pertumbuhannya akan tetap berkisar 5,5 persen. Tahun 2007 nanti baru akan naik kembali," ujarnya. Kenaikan suku bunga dan energi cost, lanjut Chatib, juga akan membuat inflasi relatif tinggi. Hingga tahun depan, jika BBM naik 100 persen, maka inflasi dari BBM akan bertambah 3 persen. Angka tersebut belum termasuk inflasi yang mungkin disebabkan oleh menurunnya nilai tukar rupiah yang menjadi penyumbang inflasi terbesar. "Kalau rupiah bisa Rp 9.400 per dolar AS atau harga minyak turun, maka semua asumsi makro akan berubah," tambahnya. Dia mengusulkan asumsi yang cukup realistis dalam RAPBN 2006 adalah pertumbuhan 5-5,5 persen, nilai tukar rupiah Rp 9.800 per dolar AS, inflasi 10-11 persen, SBI 3 bulan 12-13 persen, harga minyak US$ 55 per barel. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads