Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 05 Mar 2019 12:36 WIB

Jaga-jaga Harga Cabai Anjlok, Petani Bikin Sambal untuk Diekspor

Raras Prawitaningrum - detikFinance
Foto: Dok Kementan Foto: Dok Kementan
Jakarta - Demi mengantisipasi jatuhnya harga cabai, Kelompok Tani Sido Makmur di Desa Pilang Payung, Kecamatan Toroh, Grobogan, Jawa Tengah melakukan pengembangan olahan cabai. Upayanya adalah adalah dengan mengolah cabai menjadi sambal bernilai ekspor.

"Salah satunya adalah dengan cara membuat sambal Bledek yang dikemas dalam botol-botol rapih serta menarik. Artinya, di mana ada kemauan pasti selalu ada jalan. Hambatan dan rintangan jika diiringi keyakinan akan berbuah kesuksesan," ujar Ketua Poktan Sido Makmur, Ninik Maryani, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (5/3/2019).


Ia optimis perkembangan usaha sambalnya sukses karena semakin hari sambal Bledek diterima oleh masyarakat sebagai alternatif konsumsi saat harga cabai mahal.

"Sambal kemasan ini juga mudah dibawa, tahan lama dengan bermacam variasi rasa. Saat ini penjualan sambal Bledek per bulan baru mencapai 1.000 sampai 1.300 botol dengan omzet berkisar Rp 21 sampai 25 juta," kata Ninik.

Sebagai informasi, cabai yang memiliki kandungan air 70 sampai 90% rentan cepat membusuk. Apalagi permintaan cabai cenderung datar yang mengakibatkan harga di pasaran tidak stabil, belum lagi jika pasokan berlebih.

Sementara itu, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Yasid Taufik mengatakan pengelolaan cabai harus didukung secara penuh. Sebab, cara ini merupakan salah satu solusi mengantisipasi fluktuasi harga.

"Tentu kita harus mendukung teman-teman poktan ini karena mengolah cabai menjadi sambal, pasta, atau cabai kering siap konsumsi merupakan solusi mencegah fluktuasi harga," kata Yasid.

Menurutnya, upaya Poktan Sido Makmur dalam mengolah cabai sudah membuahkan hasil. Apalagi mereka mampu mengekspor olahannya ke berbagai negara, seperti Australia, Malaysia, Taiwan, Hong Kong, Jepang, Korea, Vietnam, Saudi Arabia, dan Turki.

"Sambal Bledek memang meledak. Bahkan sampai dikirim ke luar negeri. Sambal ini memiliki tiga varian rasa yaitu rasa original, rasa ikan peda, dan rasa ikan teri medan," jelasnya.


Sambal ini juga memiliki tiga tingkat kepedasan untuk setiap rasa. Adapun levelnya antara lain level 5 yang memiliki tingkat kepedasan paling rendah, level 10 untuk tingkat kepedasan medium, dan level 15 untuk tingkat kepedasan paling tinggi.

"Sambal olahan ini berbahan dasar cabai kering yang dipadukan dengan bawang merah, bawang putih, terasi, dan sebagainya," papar Yasid.

Ia juga menegaskan sambal Bledek sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet atau kandungan zat lain. Walaupun begitu, sambal ini mampu bertahan sampai 6 bulan. Bahkan sambal Bledek telah dipatenkan melalui label dan sertifikat dari Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan dengan nomor P.IRT No. 2113315100502-22.

"Pengolahan ini juga didukung dengan bantuan dari Direktorat Jenderal Hortikultura berupa oven, blender besar, spiner, etalase untuk memajang dagangannya dan penggorengan komplit. Sarana ini diharapkan menunjang proses produksi karena permintaan juga semakin besar," katanya.


Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Edhie Sudaryanto, mengatakan pengolahan cabai di wilayah Grobogan sangat potensial karena didukung oleh pemerintah daerah melalui promosi dan pemasaran.

"Dengan adanya pelaku usaha pengolahan cabai diharapkan dapat memberikan nilai tambah dan meningkatkan daya saing bagi petani pengolah. Selain itu, bantuan alat pengolahan juga diharapkan menjadi stimulan bagi petani untuk lebih menggiatkan pengolahan cabai," katanya. (ega/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com