Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 05 Mar 2019 15:59 WIB

Awal Tahun, Aceh Impor Garam Hingga Tembakau

Agus Setyadi - detikFinance
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta - Banda Aceh Membuka tahun 2019, Aceh mengimpor garam hingga tembakau. Total nilai impor selama Januari mencapai 271.183 US$.

Berdasarkan data dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, sepanjang Januari nilai impor komoditi non migas paling besar adalah kelompok komoditi Garam, Belerang dan Kapur dengan jenis barang adalah Gypsum, anhydrite (Gipsum). Angkanya sebesar 220.990 US$ atau sebesar 81,49 persen dari total impor non migas.

"Total nilai impor selama Januari yaitu 271.183 US$. Jika dihitung dari lima kelompok komoditi, angkanya yaitu 269.979 US$," kata Kepala BPS Aceh Wahyudin, Selasa (6/3/2019).


Nilai impor kelompok komoditi garam, belerang, dan kapur selama Januari mengalami penurunan dibanding Desember 2018. Akhir tahun lalu, nilai impor kelompok komoditas tersebut yaitu 223.685 US$.

Selain garam, sejumlah komoditi lain yang diimpor yaitu tembakau, barang-barang rajutan, mesin atau peralatan listrik, serta kendaraan dan bagiannya. Khusus untuk tembakau, baru kali ini Aceh mengimpornya.

"Nilai impor tembakau 46.065 US$," jelas Wahyuddin.

Menurut Wahyuddin, impor non migas terbesar selama Januari berasal dari Thailand sebesar 220.990 US$ dengan komoditi berupa Gypsum, anhydrite (Gipsum). Sementara negara lain yang mengirim barang ke Aceh yaitu Jepang, Tiongkok, Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Belanda dan Jerman.

"Jadi nilai Impor Provinsi Aceh pada bulan Januari adalah sebesar 2.438.041 US$. Untuk impor komoditas migas yaitu sebesar 2.166.858 US$ (88,88 persen dari total impor) yang berupa komoditas Petroleum Bitumen (Minyak Aspal). Sisanya impor non migas," beber Wahyuddin.

Petani garam di Aceh yang memiliki garis pantai sepanjang 2.666,3 km memang tidak banyak lagi. Di Aceh Besar, misalnya, jumlahnya dapat dihitung jari.


Beberapa waktu lalu detikFinance menyambangi tempat pembuatan garam di Desa Lam Ujong, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, Aceh. Di sana, petani berjumlah sekitar enam orang. Usianya pun rata-rata tak lagi muda.

"Saya jadi petani garam rebus selama 20 tahun. Kalau anak muda kan gak mau jadi petani garam karena bermain di bawah terik matahari. Padahal jadi petani garam uangnya lebih cepat. Hari ini kita masak hari ini kita punya dibanding pekerjaan lain," kata seorang petani garam, Azhar beberapa waktu lalu. (agse/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed