Arif Budimanta: Perkembangan Teknologi Harus Bermanfaat bagi Rakyat

Akfa Nasrulhak - detikFinance
Selasa, 12 Mar 2019 17:43 WIB
Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta/ Foto: KEIN
Jakarta - Pancasila harus menjadi panduan bagi seluruh aktivitas dan inovasi yang muncul dari perubahan-perubahan global yang ada, utamanya dari perkembangan teknologi sehingga dapat menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta mengatakan teknologi terus berkembang dan menjadi suatu keniscayaan. Sehingga, harus diarahkan oleh pemerintah agar dapat bermanfaat, tidak hanya untuk perusahaan dalam hal efisiensi dan efektivitas, akan tetapi juga untuk individu dan masyarakat.


"Sebagai sebuah negara kita harus terus merespons perubahan yang ada. Akan tetapi tentunya kita juga harus berpegang teguh pada nilai-nilai yang dimiliki yakni Pancasila. Pancasila berorientasi mendatangkan kesejahteraan sosial sehingga pengimplementasian teknologi yang ada pun harus memiliki tujuan yang sama," ujar Arif, dalam keterangannya, Selasa (12/3/2019).

Dalam diskusi Kelompok Terpumpun Penyusunan Buku Sejarah Pancasila dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila itu, Arif menjelaskan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) akan berkembang pesat. Bahkan di beberapa negara IoT sudah mendarah daging di dalam kehidupan bernegara.

Arif mencontohkan, Jerman menggunakan Industri 4.0 dengan memanfaatkan teknologi dan IoT dalam industri manufaktrur dengan mereformasi rantai pasok di dalamnya. Kemudian Jepang menawarkan Smart Society 5.0 untuk mewujudkan Super Smart Society dengan basis sains dan teknologi melalui penguatan individu, menciptakan nilai baru perusahaan dan menyelesaikan persoalan sosial.

"Ini tantangannya ke depan dan harus dipikirkan secara serius. Kita juga harus memikirkan di mana kedudukan Pancasila dalam perkembangan ini dengan tujuan untuk dapat menjawab masalah-masalah yang ada di negara kita," ujarnya.

Arif menuturkan terdapat beberapa permasalahan yang harus dijawab dengan perkembangan teknologi tentunya dalam kerangka Ekonomi Pancasila. Mulai dari permasalahan bonus demografi, ketenagakerjaan, wilayah Indonesia yang sangat luas dan tersebar, rawan bencana alam, hingga defisit neraca perdagangan.

Menurut Arif, pengimplementasian teknologi, utamanya internet dalam kehidupan hingga ke level individu tidaklah susah. Berdasarkan SUSENAS 2017, sebanyak 76,87 juta penduduk usia 5 tahun ke atas mengakses internet, atau sekitar 32,34% dari total penduduk Indonesia.

Adapun pemanfaatannya, lanjut Arif, kebanyakan pengguna internet menggunakannya untuk mengakses media atau jejaring sosial yaitu sebanyak 25,59%. Selanjutnya internet dimanfaatkan juga untuk mendapatkan informasi, hiburan, mengerjakan tugas sekolah, mengirim atau menerima email dan seterusnya.

"Sehingga ada baiknya andil dari negara untuk bisa mengarahkan pemanfaatan internet untuk dapat dimanfaatkan lebih membumi lagi sehingga dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat," jelasnya.

Pemanfaataan teknologi tersebut juga dapat diarahkan dengan mendukung perusahaan berbasis teknologi karya anak bangsa. Pasalnya, salah satu defisit dalam neraca jasa disebabkan oleh jasa telekomunikasi, komputer, dan informasi.

Mengacu pada data Bank Indonesia, pada 2018 sektor tersebut menyumbang defisit sebesar US$ 1,58 miliar. Apabila penggunaan aplikasi anak bangsa terus didorong, maka tidak perlu lagi bergantung terhadap aplikasi-aplikasi luar negeri seperti WhatsApp, Line, dan sebagainya.


Berdasarkan penelusuran KEIN, tercatat banyak startup buatan anak bangsa yang juga memiliki fungsi yang sama dengan aplikasi-aplikasi luar negeri tersebut. Sebut saja Call Indonesia atau callind, yang merupakan aplikasi messenger buatan wanita muda asal Jawa Tengah. Kemudian, Indonesia pernah diwarnai oleh Koprol, aplikasi sejenis yahoo messenger yang kemudian diakusisi oleh Yahoo.

"Jelas sudah kita punya semuanya. Hanya saja tinggal pemerintah hadir untuk bisa menggerakan agar aplikasi-aplikasi dalam negeri bisa digunakan di Tanah Air dan tentunya juga dibutuhkan kesadaran dari masyarakat untuk mencintai buatan anak bangsa," ujarnya.

"Lebih lanjut perlu adanya rumusan mengenai yang akan kita lakukan untuk merespons perkembangan teknologi," tutup Arif. (ega/hns)