Perbankan Takut Danai Proyek Energi Terbarukan

Perbankan Takut Danai Proyek Energi Terbarukan

- detikFinance
Kamis, 22 Sep 2005 14:31 WIB
Jakarta - Sulitnya pengembangan energi terbarukan seperti bio diesel, minyak jarak, geothermal, salah satunya karena terhambat masalah pendanaan. Kalangan perbankan pun masih takut mendanai proyek ini."Perbankan masih melihat energi terbarukan hal yang asing, sehingga tidak mau mendanai," kata Riki Ibrahim, Sekjen Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) pada acara diskusi interaktif energi terbarukan di Kantor Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jl Medan Merdeka Selatan Jakarta, Kamis (22/9/2005).Untuk membuat perbankan mau membiayai proyek ini, Riki mengimbau, pemerintah harus segera menentukan harga energi terbarukan seperti bio diesel. Sehingga perbankan bisa melihat pasarnya. Selain masalah dana, pengembangan energi terbarukan juga terkendala dengan ego antardepartemen yang kuat. Sehingga visi bersama antardepartemen tidak pernah ada."Kita tidak butuh subsidi, hanya minta dorongan kebijakan pemerintah, apalagi di saat akan ada kenaikan harga BBM seperti sekarang. Ini merupakan kesempatan energi terbarukan berkembang," ujar Riki.UU Panas Bumi, ujar Riki, sudah ada sejak dua tahun lalu, tapi hingga saat ini, tidak ada satu pun Peraturan Pemerintah (PP) yang keluar. "Ini menandakan pemerintah kurang mendorong industri dalam menggunakan energi panas bumi," katanya.Selama ini masyarakat juga dinilai masih salah kaprah tentang energi terbarukan. Mereka memandang energi terbarukan adalah energi alternatif. Seharusnya, kata Riki, istilah itu dibalik, karena energi fosil, yaitu minyak, yang seharusnya disebut energi alternatif. Sedangkan energi terbarukan merupakan energi utama."METI juga meminta presiden dan wapres turun tangan mendorong pengembangan energi terbarukan. Karena pengembangannya sudah mendesak, jangan cuma wacana," harap Riki.Menanggapi hal tersebut, Dirjen Migas ESDM Iin Arifin Takhyan mengatakan, porsi energi terbarukan dalam cetak biru (blue print) energi sebesar 4,4 persen. Diakui, sulitnya pengembangan energi terbarukan terletak pada teknologi dan harga yang kurang kompetitif dengan harga minyak yang masih disubsidi. Sehingga harga minyak relatif murah dibanding energi terbarukan. "Seperti minyak jarak harganya Rp 3.500 per liter ini jadinya lebih mahal daripada solar yang masih disubsidi," jelas Iin. Pengembangan energi terbarukan, lanjut Iin, akan sulit selama harga BBM masih menggunakan harga subsidi, kecuali kalau energi terbarukan juga diberi insentif. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads