Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 27 Mar 2019 15:03 WIB

Menhub Sebut Tiket Pesawat Mahal, Garuda: Itu Ranah Korporasi!

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Foto: Shinta Angriyana Foto: Shinta Angriyana
Jakarta - Maskapai Garuda Indonesia ditegur dua menteri sekaligus karena harga tiket pesawat yang masih mahal. Setidaknya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memerintahkan agar Garuda menurunkan tarif penerbangannya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra menyebutkan bahwa harga tiket pesawat memang diatur oleh pihak maskapai. Pria yang akrab disapa Ari Ashkara ini juga mengaku sudah bertemu dengan kementerian terkait pada Selasa malam kemarin.

"Semalam hanya diskusi tentang industri, memang ada imbauan untuk menurunkan harga tiket, namun semuanya diserahkan kepada korporasi. Karena memang itu ranah korporasi," ungkap Ari kepada detikFinance, Rabu (27/3/2019).

Ari menyebutkan pada pertemuan tersebut tidak ada pemaksaan apapun dari dua menteri yang menegurnya. "Tidak ada sama sekali pemaksaan," ungkapnya.

Lebih lanjut Ari menyebutkan maskapainya hingga kini selalu mematuhi aturan batas tarif. Maksudnya, pihaknya tidak menjual tarif terlalu mahal ataupun terlalu murah.

"Selama ini GA (Garuda Airlines) selalu mematuhi aturan tarif batas atas dan tarif batas bawah. Tidak pernah sekalipun melanggar peraturan tersebut, yang sudah berlaku sejak April 2016," kata Ari.


Ari sendiri melanjutkan dia telah menampung aspirasi dari industri pariwisata dan akan segera menindaklanjutinya. "Aspirasi dari berbagai pihak khususnya perhotelan ditampung dengan baik oleh pihak Garuda Indonesia Group," katanya.

Menurut Ari ada banyak hal yang harus diperhatikannya dalam menentukan tarif, mulai dari sisi perusahaan hingga penumpang. Untuk itu menurutnya menaik dan turunkan tarif tidak mudah.

"Perlu diingat bahwa Garuda sebagai leading national airlines/BUMN juga memiliki stakeholders yang lain seperti karyawan, pilot, dan pemegang saham, yang dalam hal ini pemerintah Indonesia. Jadi harus memperhatikan kepentingan semuanya, khususnya kepentingan nasional," kata Ari.

Salah satu yang utama adalah memperhatikan keamanan penumpang. Menurutnya hal tersebut harus diperhatikan tanpa celah.

"Satu hal yang paling utama bagi kami adalah safety bagi penumpang. Dengan regulasi yang ketat, safety buat kami adalah Zero Tolerance, at any cost," sebut Ari.

(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com