Produsen Pupuk Minta Penyesuaian Harga
Senin, 26 Sep 2005 15:34 WIB
Jakarta - Produsen pupuk minta pemerintah agar menyesuaikan harga jual karena sudah di bawah biaya produksi. Tingginya harga gas juga makin memberatkan biaya produksi yang mengakibatkan banyak perusahaan pupuk berhenti produksi. Saat ini harga eceran tertinggi (HET) pupuk dalam negeri sebesar Rp 1.050 per kilogram. Sedangkan harga pupuk internasional sudah mencapai US$ 230 per ton (Rp 2.300 per kilogram). Harga pupuk urea yang rendah dibanding ekspor saat ini dinilai telah menjadi lahan subur penyelundupan. "Seharusnya pemerintah menetapkan harga gas bumi untuk industri pupuk dengan mempertimbangkan keunggulan komparatif dari negara bersaing, serta penetapan harga urea ekspor atau urea domestik sesuai dengan harga internasional US$ 230 per ton," kata Dirut PT Pupuk Sriwijaya Dadang Heru Kodri.Hal ini disampaikan dia di sela acara seminar restrukturisasi industri pupuk nasional di Hotel Atlet, Senayan, Jakarta, Senin (26/9/2005). Menurut Dadang, biaya produksi saat ini mencapai US$ 172 per ton, sedangkan proyeksi rata-rata harga jual sebesar US$ 160 per ton. Ancaman ini menjadi definitif bila harga gas bumi sebesar US$ 4 per mmbtu yang membuat biaya produksi pupuk urea Indonesia sudah melebihi harga jual."Komponen terbesar biaya produksi pupuk sebesar 50-60 persen untuk membeli gas, saat ini harganya mencapai US$ 2,7 per mmbtu, inilah yang membuat cash flow negatif," ujar Dadang. Kondisi ini, kata Dadang, jika berlangsung terus akan membuat aliran dana (cash flow) Pupuk Pusri Holding negatif. Sehingga ke depan, perseroan harus mengimpor 4,5 juta ton produksinya karena semua pabrik sudah tutup. "Saat ini saja PIM sudah kolaps, ASEAN Aceh Fertilizer (AAF) dilikuidasi, Pupuk Kaltim obligasinya jatuh tempo dan Pupuk Kujang bermasalah," kata Dadang. Dijelaskan, keuntungan atau profit selama lima tahun tidak mencukupi untuk melakukan replacement pabrik yang tua. Industri pupuk dinilai, tidak akan mendekati going concern tapi sudah menuju tutup. Akibatnya, investasi pabrik dengan teknologi baru seperti Pabrik Kujang IB, Pupuk Iskandar Muda (PIM) II dan Pupuk Kaltim IV akan mubazir.Dadang menjelaskan, pada tahun 2006, kondisi industri pupuk akan semakin tidak jelas. Pasalnya, selama empat tahun terakhir saja pada tahun 2000-2004, Pusri Holding sudah kehilangan opportunity lost Rp 5,4 trilun, ditambah pada tahun 2005 sebesar Rp 2,63 triliun. PT Pupuk Pusri Holding yang 100 persen sahamnya dimiliki pemerintah memiliki enam anak usaha. Terdiri dari PT Pupuk Kaltim, PT Pupuk Kujang, PT Petrokimia Gresik, PT Rekayasa Industri, PT Pupuk Iskandar Muda, dan PT Mega Eltra.
(ir/)











































