Lipsus Bisnis Sewa Modem Luar Negeri

Suburnya Bisnis Sewa Modem Luar Negeri

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 03 Apr 2019 12:35 WIB
Foto: istock
Jakarta - Sambil menunggu boarding, Sakinah sibuk mengutak-atik perangkat yang bentuknya mirip dengan hardisk eskternal. Perangkat itu adalah modem wifi.

Bagi wanita yang memiliki nama panjang Sakina Rakhma Diah Setiawan, internet dianggap sebagai salah satu modal paling penting saat melancong ke luar negeri.

"Penting banget. Ini modal gue buat jalan-jalan di Taiwan," tuturnya saat berbincang dengan detikFinance.

Dia membutuhkan akses internet untuk mencari informasi tentang perjalanan maupun tujuan wisata yang hendak dia sambangi. Apalagi, dia sangat gemar traveling seorang diri. Jadi internet satu-satunya teman sekaligus pemandu baginya.

Di luar itu, internet merupakan bahan utama bagi dia untuk update di Instagram. Foto di tempat tujuan wisata ibaratnya menjadi oleh-oleh wajib bagi setiap pelancong saat ini.

Sakinah mengaku baru pertama kali menggunakan jasa sewa modem wifi untuk ke luar negeri. Biasanya dia menggunakan paket roaming ataupun membeli SIM card baru.

Menurutnya sewa modem wifi memiliki beberapa keunggulan. Misalnya, kuota yang tak terbatas dan masa baterai yang tahan lama.

"Menurut gue menguntungkan kalo lo liburannya agak lama gitu. Kalo misal liburan singkat cuma 3 hari sih mending beli SIM Card," ujarnya.

Penyewaan modem untuk wisata keluar negeri memang tengah marak di Indonesia. Coba saja ketik sewa modem ke luar negeri di mesin pencari Google, pasti muncul deretan situs penyewaan modem.

Meski cukup puas menggunakannya, Sakinah menilai masih ada kekurangan dalam menggunakan modem wifi, yang paling dikeluhkan olehnya adalah tak bisa mengakses jaringan telepon biasa. Namun keluhan itu teratasi dengan fasilitas panggilan yang ada di aplikasi Whatsapp.

"Tidak ada sih kendalanya, alhamdulillah mulus. Pas pengembalian uang jaminan juga cepat banget," ujarnya.

Memang hampir seluruh penyedia modem wifi sewaan menerapkan uang deposit. Uang itu sebagai jaminan dan akan dikembalikan ketika penyewa mengembalikan perangkat modemnya. Biasanya proses pengembalian uangnya hanya 3 hari.

Ambil misalnya sewa modem unlimited per harinya Rp 60 ribu dikali masa sewa 4 hari total sewanya Rp 240 ribu. Nah biasanya ada uang tambahan untuk deposit yang rata-rata Rp 500 ribu. Total yang harus dikeluarkan jadi Rp 740 ribu. Angka itu juga tergantung tujuan negaranya.


Jika dihitung memang jauh lebih besar dibanding membeli paket roaming ataupun SIM Card. Jumlah dana itu juga yang dikeluhkan oleh Fetry Wuryasti.

Wanita yang biasa traveling ke luar negeri 1 tahun 3 kali itu justru belum pernah menggunakan modem wifi. Bukan berarti dia belum tahu tentang penyewaan modem, tapi dia merasa berat dari uang yang harus dikeluarkan dan masih merasa tidak nyaman.

"Mahal dan banyak keluhannya juga. Kayak deposit enggak balik, atau kena charge lebih. Ada yang pernah expose di medsos," ujarnya.

Fetry lebih memilih untuk membeli SIM Card di negara tujuannya. Harganya jauh lebih murah, sekitar Rp 120 ribu untuk isi data 4-5 gb.

Sementara Suci Sarasina yang gemar melancong ke luar negeri bersama teman-temannya jauh lebih memilih modem wifi. Alasannya karena 1 perangkat bisa dipakai bersama teman-temannya.

"Ya kalau beramai-ramai ya lebih untung dong, kan kita bisa patungan. Kebersamaannya juga lebih dapat. Kan yang penting bisa update," tuturnya.

Meski begitu, para pemain di industri yang baru ini berkembang cukup cepat. PT Yelooo Integra Datanet Tbk misalnya, perusahaan yang baru berdiri 2016bahkan sekarang sudah mampu mejeng di pasar modal sahamnya.

"Luar biasa perkembangannya makanya di 2018 kita IPO buat cari dana untuk pengembangan lagi," kata Direktur Utama Yelooo Untegra Datanet Hiro Whardhana

Perusahaan yang mengelola penyewaan modem wifi Passpod ini saat berdiri di bulan keempat saja sudah mengantongi omset Rp 100 jutaan. Sekarang perusahaan bisa mengantongi omset sekitar Rp 1,5-3 miliar per bulan.

Bahkan pernah Passpod berhenti menawarkan modemnya bukan karena gulung tikar tapi karena modemnya yang berjumlah 2 ribu perangkat habis disewa semua bersamaan. Itu terjadi pada Desember 2017.

Melihat potensi yang luar biasa, perusahaan terus menambah jumlah modemnya hingga kini ada sekitar 11 ribu modem. Pada saat IPO Passpod berhasil mengumpulkan hampir Rp 501 miliar, dari target perolehan dana Rp 48 miliar. Uang itu salah satunya digunakan untuk pengembangan bisnis.

Menurut Hiro industri penyewaan modem wifi memiliki potensi yang luar biasa seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat kekinian yang lebih gemar plesiran. Apalagi pertumbuhan masyarakat kelas menengah saat ini begitu tinggi.

"Size-nya besar banget, bayangkan dalam satu tahun ada 8,2 juta orang yang ke luar negeri dari Indonesia. Itu pasar yang luar biasa," tutupnya.

(das/fdl)