Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 03 Apr 2019 15:01 WIB

10 Perusahaan Raksasa yang Terancam Brexit

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: DW (News) Foto: DW (News)
Jakarta - Problematika Brexit dalam sektor bisnis tak hanya berdampak pada Inggris sendiri, namun juga terhadap bisnis di luar Inggris.

Contohnya Jepang, yang beberapa perusahaannya harus menanggung resiko akibat ini. Jepang tak henti mengingatkan Inggris untuk merundingkan kembali langkah ini.

Menurut Jepang, Brexit akan memberi dampak yang serius bagi perdagangan dan investasi. Apabila Inggris tidak mengamankan inisiasinya atas Brexit, perdagangan, investasi, dan bisnis Jepang terpaksa hengkang dari Inggris.

Selain Jepang, perusahaan raksasa dunia lainnya juga memberikan peringatan keras terhadap Inggris. Berikut adalah 10 perusahaan tersebut seperti dikutip dari CNN Business


1. Siemens

Pejabat Siemens mengatakan, reputasi Inggris sebagai lahan bisnis yang menguntungkan mengubahnya menjadi "bahan tertawaan".

"Sudah cukup. Kesabaran kami sudah habis," kata Juergen Maier, CEO Siemens Britania Raya.

Kepada anggota parlemen Maier mengatakan bahwa ia kesulitan dalam membuat keputusan yang seimbang dalam investasi. Hal tersebut mempengaruhi kinerja dan daya saing Siemens di Inggris.

Siemens memiliki 15.000 pekerja dan menghasilkan sekitar £ 5 miliar.

2. Easy Jet

Maskapai murah Easy Jet memperingatkan bahwa ketidakpastian Brexit memberi dampak pada berkurangnya pembelian tiket untuk penerbangan di Eropa. Masalah serius ini terancam berlanjut selama musim panas.

Easy Jet mengalami kerugian besar senilai £ 275 juta (US$ 359 juta) selama 6 bulan yang berakhir pada 31 Maret.


3. Citigroup

Pada bulan Januari, CEO Citigroup, Michael Corbat mengatakan kepada Bloomberg bahwa Citi terpaksa memindahkan asetnya ke luar dari London jika bank di Inggris ini tak lagi bisa membuka layanan di Eropa.

Berdasarkan data konsultan keuangan Ernst and Young (EY), perusahaan jasa keuangan ini telah mengumumkan rencananya untuk memindahkan aset senilai £ 1 triliun (US$ 1,3 triliun) ke Uni Eropa. Sebanyak 7.000 pekerja juga diperkirakan akan pindah.

4. Airbus

Pada bulan Januari, CEO European Planemaker Airbus menyampaikan bahwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa secara tidak teratur ini dapat menyebabkan Airbus memindahkan investasinya jauh dari Inggris.

Dengan jumlah pegawai sebanyak 14.000 orang di Inggris, tidak menjamin perusahaan tersebut akan bertahan.

"Sektor penerbangan di Inggris kini ada di ujung tanduk. Jika Brexit tak ada kejelasan, kami harus membuat keputusan yang sangat berbahaya untuk Inggris. Masih banyak negara lain yang dengan senang hati menciptakan kerja sama dengan kami," jelas Enders.

5. McDonald's (McD)

Sejumlah bisnis fast food, seperti McD, KFC, Pret a Manger, dan sejumlah supermarket di Inggris memperingatkan pada Januari bahwa kasus Brexit akan memberi dampak yang cukup signifikan terhadap rantai pasokan mereka.

Apabila Brexit terjadi tanpa ada perjanjian yang melindungi perdagangan di Eropa, mereka tak akan mampu bertahan.

"Walaupun kami dan pemasok telah bekerja sama dengan sangat baik, tak mengurangi semua risiko terhadap pasokan bahan kami," kata McD dan perusaan fast food lainnya.


6. Sony

Perusahaan besar asal Jepang yang bergerak dalam bidang teknologi ini memutuskan akan memindahkan bisnisnya ke Amsterdam menggantikan basis legalnya yang terletak di London. Hal tersebut sepenuhnya dampak dari Brexit.

Juru bicara Sony mengatakan pada Januari lalu, keputusan mereka tersebut adalah hal yang terbaik bagi mereka jika tak ada kesepakatan baik yang tercapai.

Keputusan Sony ini mengikuti keputusan serupa Panasonic Jepang yang telah memindahkan "markas" bisnisnya dari Inggris ke Belanda.

Panasonic mengambil langkah berikut demi mengatasi pembatasan saluran tenaga kerja dan pasokan produk antara Inggris dengan negara lain.

7. Nissan

Di awal Februari, Nissan membatalkan pembangunan X-Trail di Inggris dan memilih untuk membuat SUV di Jepang. Brexit adalah salah satu indikator utama keputusan tersebut.

Pabrik Nissan yang terletak di kota Sunderland, Inggris merupakan pabrik mobil terbesar di Inggris yang memiliki 7.000 karyawan.

Pada bulan Maret, Nissan mengumumkan akan menghentikan pembuatan dua model baru Infiniti yang cukup mewah namun membantah bahwa itu ada hubungannya dengan Brexit.

8. Ford

Inggris sebagai negara ketiga di dunia dengan pasar yang terbesar tak membuat Ford menghentikan langkahnya untuk berhenti membuat mobil di negara tersebut.

Produsen mobil asal AS ini mengatakan pada Januari lalu bahwa Brexit menelan biaya US$ 800 juta juga di tahun 2019. Hal tersebut akan menyebabkan adanya tarif baru dan penurunan nilai terhadap pound Inggris.

Jika tak ada kesepakatan baik dalam Brexit, Ford akan mengambil langkah dalam operasinya di Inggris, demikian yang dikatakan Steven Armstrong, CEO Ford dikutip dari Sky News.

"Kita akan mengambil langkah untuk melindungi seluruh bisnis," tambah Armstrong kepada Sky News.


9. BMW

BMW, perusahaan mobil asal Jerman yang mengandalkan sumber pasokan global khawatir Brexit akan mencegah pabriknya beroperasi. Keberlangsungan pabrik BMW di Inggris akan terancam.

"Jika kita tidak lagi memiliki perserikatan, sektor manufaktur di Inggris terancam punah," tutur Presiden Konfederasi Industri Inggris, Paul Drechsler (06/18).

Perlu diketahui, sektor manufaktur mobil di Inggris memiliki pekerja sejumlah 186.000 orang menurut data Society of Motor Manufacters and Traders.

10. Schaeffler

Dikutip lagi dari CNN, pemasok industri otomotif dan pesawat asal Jerman, Schaeffler menutup dua pabriknya di Britania Raya (11/18).

Pabrik yang ditutup berlokasi di Llanelli, Wales dan di Plymouth, Inggris barat daya.



(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com