Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 03 Apr 2019 17:50 WIB

Lipsus Bisnis Sewa Modem Luar Negeri

Gurihnya Bisnis Sewa Modem, Mau Coba?

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Danang Sugianto Foto: Danang Sugianto
Jakarta - Internet ibarat pupuk yang paling ampuh bagi dunia usaha saat ini. Banyak sekali jenis bisnis baru yang muncul akibat internet.

Salah satu bisnis baru yang mulai marak karena internet adalah penyewaan modem untuk para pelancong di luar negeri. Coba saja ketik sewa modem ke luar negeri di mesin pencari Google, pasti muncul deretan situs penyewaan modem.

Salah satu pemain yang sudah berkembang cukup masif adalah PT Yelooo Integra Datanet Tbk alias Passpod. Umur perusahaan ini baru 2 tahun, tapi sudah bisa mejeng di pasar modal.

Direktur Utama Passpod Hiro Whardana mengisahkan, dia mendirikan bisnisnya itu bersama 3 orang temannya. Mereka kebetulan memiliki pengetahuan tentang teknologi informasi dan telco. Kesamaan lainnya mereka gemar plesiran ke luar negeri.

"Kami sama-sama ogah rugi, jadi rugi pakai paket roaming karena harganya mahal sekali. Satu SIM Card bisa US$ 50, kalau pergi berempat bisa US$ 200," ujarnya kepada detikFinance, Jumat (22/3/2019).

Selain itu dia melihat dengan semakin banyaknya pelancong Indonesia ke luar negeri, menurutnya modem wifi sangat dibutuhkan. Sebab bagi mereka yang tidak bisa berbahasa Inggris sulit ketika harus membeli SIM Card di negara tujuannya.

Hiro mengaku terinspirasi dari Jepang yang sebelumnya sudah marak bisnis penyewaan modem wifi. Akhirnya mereka iseng untuk coba bisnis itu.

Mereka akhirnya mengumpulkan modal yang hanya Rp 150 juta. Modal itu untuk membeli 100 buah modem yang harganya Rp 1,5 juta.

Awalnya mereka bekerja sama dengan perusahaan tour and travel untuk menawarkan jasa sewa modemnya. Kemudian mulai berkembang dengan membuat website dan melalui media sosial.

Benar saja, di bulan keempat Passpod sudah mengantongi omset Rp 100 jutaan. Bahkan pernah Passpod berhenti menawarkan modemnya bukan karena gulung tikar tapi karena modemnya yang berjumlah 2 ribu perangkat habis disewa semua bersamaan. Itu terjadi pada Desember 2017.


Melihat potensi yang luar biasa, perusahaan terus menambah jumlah modemnya hingga kini ada sekitar 11 ribu modem. Sekarang perusahaan bisa mengantongi omset sekitar Rp 1,5-3 miliar per bulan.

Pada saat IPO Passpod berhasil mengumpulkan hampir Rp501 miliar, dari target perolehan dana Rp48 miliar. Uang itu salah satunya digunakan untuk pengembangan bisnis.

Menurut Hiro industri penyewaan modem wifi memiliki potensi yang luar biasa seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat kekinian yang lebih gemar plesiran. Apalagi pertumbuhan masyarakat kelas menengah saat ini begitu tinggi.

"Size-nya besar banget, bayangkan dalam satu tahun ada 8,2 juta orang yang ke luar negeri dari Indonesia. Itu pasar yang luar biasa," tutupnya.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira menilai hadirnya bisnis sewa modem di Indonesia bisa menjadi ancaman bagi para provider atau perusahaan telco di Indonesia. Sebab mereka secara tidak langsung ikut memakan pangsa pasar mereka di bisnis paket roaming.

"Semakin banyak disrupsi di sektor telekomunikasi bagus untuk konsumen tapi di sisi lain memangkas marjin laba pemain telco yang sudah ada," ujarnya.

Industri telco beberapa tahun ini memang tengah mengalami kelesuan. Banyak dari perusahaan telco besar termasuk Telkomsel hingga Indosat masih mengalami kerugian.

Masa suram dari industri telco dimulai ketika berkembangnya aplikasi. Dengan adanya aplikasi komunikasi untuk pesan, telepon hingga panggilan video membuat perusahaan telco kehilangan pemasukan dari pulsa. Apalagi selama ini perusahaan telco sangat bergantung dari pemasukan panggilan pulsa dan SMS.

(das/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com