Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 04 Apr 2019 13:36 WIB

Pasar Batik Trusmi Cirebon Sepi, Mendag: Kita Bikin Lebih Hidup

Sudirman Wamad - detikFinance
Foto: Sudirman Wamad/detikcom Foto: Sudirman Wamad/detikcom
Cirebon - Sejak diresmikan pada 2015 silam hingga saat ini Pasar Batik Trusmi yang berada di Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (Jabar) masih sepi pembeli. Hanya segelintir wisatawan atau pembeli yang belanja di situ. Imbasnya tak sedikit kios batik yang memilih tutup.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita meninjau kondisi Pasar Batik Trusmi. Menurut Enggar, Pasar Batik Trusmi harus memiliki inovasi agar bisa menarik wisatawan atau pembeli.

"Ini harus ada daya tarik, harus bisa menarik karena kalau berjalan seperti ini saja kasihan. Tidak lama lagi mereka (pedagang) akan tutup," kata Enggartiasto usai berkunjung di Pasar Batik Trusmi Cirebon, Jabar, Kamis (4/4/2019).


Pedagang batik, lanjut pria yang akrab disapa Enggar itu, hanya membuat waktu dan biaya jika pasar tak segera berinovasi. Selain itu, lanjut Enggar, Pasar Batik Trusmi yang diresmikan Gubernur Jabar pada 2015 silam itu bersaing dengan kawasan batik Trusmi, yang memang lokasinya tidak jauh dari Pasar Batik Trusmi.

"Memang wisatawan banyaknya berkunjung ke sebelah (kawasan batik Trusmi). Karena sudah menjadi ikon belanja batik, tapi kita akan coba membuat pasar ini menjadi lebih hidup," katanya.

Enggar mengatakan Bupati Cirebon dalam waktu dekat akan menyurati Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terkait strategi promosi di sepanjang jalan. Kemudian, lanjut dia, inovasi lainnya yang harus dilakukan adalah dengan melibatkan pengelola kuliner favorit di Cirebon untuk menghidupi Pasar Batik Trusmi.


"Saya akan bantu. Berikutnya ini harus dipadukan juga dengan wisata kuliner, bupati sudah mengundang empal gentong Haji Apud, ia (Apud) sudah sangat terkenal. Jadi kalau kita sekarang menemani istri belanja, bapak-bapaknya lebih baik nongkrong di kuliner daripada ikut milih batik," kata Enggar seraya tersenyum.

Tak hanya itu, Enggar juga menyinggung soal daya tarik pasar melalui spot-spot untuk swafoto. Enggar mendorong pasar harus memiliki nilai entertainment untuk menarik pengunjung.

Di tempat yang sama, salah seorang pedagang batik, Veni (44) mengeluhkan sepinya pengunjung. Veni mengaku sudah dua tahun menyewa kios. "Sepi, setiap hari paling satu atau dua pembeli," kata Veni.

Veni mendapatkan kios paling belakang pasar. Untuk harga sewa kios, diakui Veni berharga Rp 500.000 dan Rp 300.000 per tahunnya, namun Veni juga harus membayar retribusi per hari dan bulannya, seperti listrik, keamanan dan kebersihan.

"Per bulan Rp 45.000, sehari ada yang Rp 4.000 sama Rp 6.000. Bedanya cuma besar kecilnya kios. Sepinya tuh mungkin karena kurang promosi, berharap sih bisa ramai pengunjung," kata Veni. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com