Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 06 Apr 2019 13:46 WIB

Hal-hal yang Bikin Ragu Sri Mulyani Menkeu Terbaik Se-Asia

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Edi Wahyono Foto: Edi Wahyono
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali dinobatkan menjadi Menteri Keuangan (Menkeu) terbaik Asia Pasifik 2019 versi majalah FinanceAsia. Hal ini pun memicu kritikan dari berbagai pihak, termasuk analis yang menilai penobatan tersebut tak sesuai kondisi ekonomi Indonesia.

Menurut Analis dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat Gede Sandra, saat ini ada empat masalah ekonomi yang tengah dihadapi pemerintah. Pertama, yaitu pengelolaan surat utang di mana bunga yang ditetapkan menjadi paling tinggi di kawasan Asia Tenggara.

Sebab, dengan bunga yang lebih tinggi membuat pemerintah mesti menggelontorkan uang yang lebih besar ketika jatuh tempo. Ia memberi contoh besaran utang yang mesti dibayar oleh pemerintah dengan besaran bunga 8% dan tenor 10 tahun jauh lebih besar 135% dibanding Vietnam.

"Surat utang kita tertinggi di kawasan Asia Tenggara, bunganya 8%. Artinya kalau buat kita bisa rugi karena mesti membayar utang lebih mahal dari negara-negara di kawasan. Misalnya Vietnam itu 4,8% kalau dibandingin dengan tenor kita 10 tahun maka kita mesti bayar lebih mahal 135%," kata dia kepada detikFinance, Sabtu (6/4/2019).

Gede juga menyoroti besaran penerimaan pajak di Indonesia yang dinilai jauh lebih kecil dibanding negara-negara di Asia Tenggara. Ia mengungkapkan saat ini pendapatan pajak Indonesia hanya sebesar 10-11% terhadap produk domestic bruto (PDB).

Ia pun membandingkan penerimaan pajak dengan Vietnam yang mencapai 13,8%, Thailand 17%, dan Filipina 14,4%. Angka penerimaan ini dianggap bisa menghambat pertumbuhan ekonomi di masa mendatang, mengingat besaran bunga dan utang yang setiap tahun mesti dibayar.



Kemudian, Gede mengungkapkan saat ini defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD) Indonesia merupakan yang paling besar mengalami pelebaran. Tercatat pada kuartal III tahun 2018 CAD melebar ke minus US$ 8,8 miliar.

Hal ini pun bisa membuat mata uang rupiah melemah sehingga berpotensi pada krisis keuangan. Sedangkan penguatan rupiah saat ini saja dinilai terjadi karena pemerintah gencar menarik surat utang dari pasar dengan bunga yang tinggi. Alhasil, pelaku pasar langsung menukarkan mata uang asing ke rupiah.

"Perlu diwaspadai, strategi menarik banyak utang berbunga tinggi ini untuk menjaga nilai tukar adalah sebuah bom waktu yang dapat meledak kapan saja di masa depan," ungkap dia.

Terakhir, ia mengungkapkan Net International Investment Position (NIIP) Indonesia menjadi yang paling negatif di Asia Tenggara. Dengan posisi tersebut, Indonesia dianggap bisa mengalami pengelolaan keuangan dan investasi yang merugi.

"Jadi aneh kenapa semua angkanya buruk, tapi malah dinobatkan jadi Menkeu terbaik," tutup dia.

Sebagai informasi, Sri Mulyani sendiri telah dinobatkan menjadi Menkeu terbaik versi majalah FinanceAsia selama tiga kali berturut-turut. Hal ini lantas membuat beberapa orang mengkritik penobatan atas dirinya mulai dari Calon Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto hingga Wakil Ketua DPR Fadli Zon.

(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com