Meski BBM Naik
Harga Obat Dipastikan Tak Naik
Rabu, 28 Sep 2005 15:14 WIB
Jakarta - Masyarakat boleh sedikit lega. Meski harga BBM naik mulai 1 Oktober, harga obat-obatan dipastikan tidak akan naik. Selama ini harga obat lebih banyak dipengaruhi oleh gejolak nilai tukar rupiah."Kalau semua harga-harga naik, justru obat ini kalau bisa kita usahakan tidak naik, paling tidak sampai akhir tahun," kata Dirut PT Kimia Farma Gunawan Pranoto saat dijumpai di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (28/9/2005).Gunawan menegaskan, Kimia Farma tidak akan menaikkan harga obat, baik generik maupun nongenerik, karena mengingat harga obat-obatan lebih dipengaruhi oleh kurs rupiah terhadap dolar."Karena bahan bakunya hampir 90 persen lebih masih dari luar negeri dan impor," jelasnya.Selain tidak menaikkan harga obat-obatan, apotek-apotek Kimia Farma justru akan memberikan diskon harga pada bulan Ramadan. Obat-obatan yang akan didiskon dalam program Ramadan adalah obat-obatan suplemen, obat maag dan obat kumur.Ia memperkirakan jika pemerintah akan menaikkan harga BBM sekitar 50 persen, maka pengaruh ongkos produksi terhadap energi tidak sampai 10 persen, yakni paling tinggi hanya sekitar 5 persen. Pertumbuhan pasar farmasi hingga semester I-2005 hanya 5,8 persen. Padahal di tahun-tahun sebelumnya pertumbuhan pasar farmasi dapat mencapai 2 digit. "Pertumbuhan pasar farmasi semester I menurut catatan kami paling rendah selama 5 tahun terakhir ini, hanya 5,8 persen. Biasanya lebih dari ini, yaitu dua digit. Sekarang hanya satu digit," ujar Gunawan.Penurunan pertumbuhan pasar farmasi, lanjut Gunawan, menunjukkan bahwa daya beli masyarakat menurun. Hal tersebut terlihat dari banyaknya apotek yang mengganti obat-obatan nongenerik ke obat-obatan generik yang harganya terjangkau namun dengan kualitas yang sama baiknya.
(qom/)











































