Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 18 Apr 2019 13:55 WIB

Kalau Jokowi Mau Ganti Menteri, Ini Sektor yang Mesti Jadi Prioritas

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Foto: Edi Wahyono Foto: Edi Wahyono
Jakarta - Joko Widodo (Jokowi) yang kembali mencalonkan diri di Pemilu 2019 hingga kini masih unggul dalam hasil perhitungan cepat pemilihan presiden di beberapa lembaga survei.

Jokowi diyakini bakal mengganti sejumlah menteri ekonomi dalam waktu dekat bila jabatannya lanjut. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani.

"Bapak Presiden sudah tahu kok. Nanti juga beliau akan lakukan reshuffle," kata Hariyadi waktu dihubungi, Kamis (18/4/2019).

Lalu kalau memang ingin merombak menterinya, sektor apa sih yang mesti diperhatikan Jokowi?

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan setidaknya ada tiga sektor yang harus dijadikan prioritas apabila Jokowi mau mengganti menteri-menterinya. Setidaknya, Josua menyatakan sektor industri, ketenagakerjaan, dan perdagangan harus menjadi prioritas.

Menurut Josua tiga sektor tersebut merupakan isu-isu yang yang menjadi pekerjaan rumah pemerintahan Jokowi apabila terpilih kembali.

"Ada beberapa yang menjadi kekurangan dan harus dibenahi sama pak Jokowi. Pertama harus bisa menggenjot industri dengan mendorong sektor manufaktur, kan selama ini kontribusi manufaktur sangat kecil ya," ungkap Josua kepada detikFinance.
Dia mengatakan isu ketenagakerjaan menjadi penting terlebih lagi dengan target Jokowi untuk mereformasi sumber daya manusia.

"Pak Jokowi kan mau mereformasi juga sumber daya manusianya kan. Dengan meningkatkan kualitas SDM maka bisa meningkatkan kualitas pendapatan masyarakat, produktivitas tenaga kerja kita kan kurang produktivitasnya," kata Josua.

"Labour costnya pun besar tapi produktivitasnya kecil, investor pun ragu untuk masuk, kan kalau tenaga kerjanya berkualitas investasi akan tidak ragu untuk masuk," tambahnya.
Lalu permasalahan perdagangan sendiri, Josua menyoroti neraca dagang negara yang sering defisit karena impor terlalu banyak dan ekspor kurang.

"Kita harusnya bisa ekpor dengan value lebih tinggi ya, selama ini kan seringnya neraca dagang tekor. Belum lagi dengan ancaman global ya kan ini masih ada perang dagang dan sebagainya," ungkap Josua.

"Terlebih lagi lima tahun belakang kan infrastruktur digenjot, harusnya itu bisa dimanfaatkan dan dimaksimalkan genjot perdagangan," tambahnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com