Tuntut Kenaikan BBM Ditunda
Dialog Mahasiswa-Ical Garing
Jumat, 30 Sep 2005 12:56 WIB
Jakarta - Elemen mahasiswa yang tergabung dalam Lingkar Mahasiswa Jakarta Raya (Lima Jaya) menemui Menko Perekonomian Aburizal Bakrie untuk meminta penundaan kenaikan harga BBM. Namun mahasiswa yang biasanya selalu berapi-api menyerukan tujuannya, kali ini seperti grogi berhadapan dengan menteri ekonomi itu. Dialog pun terasa garing. Mahasiswa terlihat 'menikmati' pertemuan dengan pejabat pemerintah tersebut dan sesekali mengabadikan momen bersejarah itu dengan handycam masing-masing.Pertemuan berlangsung di ruang rapat lantai 4, Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (30/9/2005). Turut hadir dalam pertemuan adalah Menko Kesra Alwi Sihab, Menakertrans Fahmi Idris dan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro.Sementara mahasiswa yang hadir hanya sekitar 24 orang yang mewakili 16 universitas. Lima Jaya ini sendiri merupakan gabungan dari 25 universitas negeri dan swasta antara lain Trisakti, Perbanas, UNJ, Jayabaya, Mercu Buana, Ibnu Chaldun, dan Tarumanegara.Hampir semua perwakilan mahasiswa yang mengenakan jaket almamater masing-masing ini menyuarakan hal yang sama yakni menunda kenaikan harga BBM. Setiap perwakilan universitas diberi kesempatan menyuarakan aspirasinya. Syafaat Perbani, Wakil Presiden Mahasiswa Trisakti mengatakan, kedatangan elemen mahasiswa menemui menteri ekonomi adalah untuk meminta penundaan harga BBM dan melakukan kontrak politik terhadap pemerintah. Namun menurut Syafaat, jika harga BBM naik, mereka meminta ada solusi dari pemerintah seperti intervensi terhadap pasar agar harga-harga bahan pokok tidak ikut naik. Menanggapi hal tersebut, Aburizal selayaknya pejabat pemerintah menjawab akan menampung usulan tersebut dan akan disampaikan Presiden dalam sidang kabinet terbatas di Istana. "Kita belum tahu. Nanti kita rapat kabinet yang akan memutuskan apakah akan ditunda atau tidak ditunda. Semua masukan sudah kita dapatkan dari buruh, mahasiswa petani dsb, dan akan kami sampaikan ke Presiden dan nanti akan diputuskan," ujar Aburizal. Ia menambahkan, selain memberikan program kompensasi tunai, pemerintah juga memberi kompensasi melalui program lainnya seperti untuk petani diberlakukan kenaikan harga beli gabah. Sementara untuk buruh akan diberikan kenaikan pengahasilan tidak kena pajak sebesar 10 persen. Begitu pula industri, perdagangan dan UKM akan diberikan semacam insentif usaha seperti pengurangan biaya ekonomi tinggi.
(qom/)











































