Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 01 Mei 2019 20:06 WIB

Ekonomi Tumbuh Cuma 5% Bikin Upah Buruh 'Tersandera'

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Demo buruh/Foto: Rifkianto Nugroho Demo buruh/Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta - Ekonom Rizal Ramli hadir dalam acara peringatan hari buruh yang diselenggarakan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). Usai acara, Rizal Ramli yang juga tim ahli capres 02 Prabowo Subianto, mengatakan kenaikan upah buruh yang salah satu komponen perhitungannya melalui pertumbuhan ekonomi dinilai kurang efektif.

Pasalnya menurut Rizal, hingga kini saja pertumbuhan ekonomi hanya di kisaran 5%. Pemerintah terlalu 'memble' menurut Rizal dalam menggenjot pertumbuhan ekonomi, sehingga upah buruh menjadi korban.

"Pemerintahnya ini memble kaya gini, cuma bisa bikin pertumbuhan ekonomi 5% upah buruh tersandera," ungkap Rizal kepada awak media usai mengikuti gelaran May Day 2019 bersama capres Prabowo Subianto, di Tennis Indoor Senayan, Rabu (1/5/2019).


Rizal mengatakan apabila capres Prabowo Subianto menang pemilu, dia dan timnya akan merubah formula penghitungan kenaikan upah buruh. Tanpa angka pertumbuhan ekonomi, melainian Rizal akan mengatur negosiasi antara manajemen dan buruh untuk menentukan kenaikan upah.

"Nanti kita ubah peraturan agar supaya upah buruh ditentukan berdasarkan dengan negosiasi dengan manajemen. Ini nggak bener pemerintahnya memble cuma 5% jadinya disandera upah buruh," ungkap Rizal.

Adapun, rumusan pengupahan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 78 tahun 2015 yaitu UMP tahun depan = UMP tahun berjalan + (UMP tahun berjalan x (inflasi + pertumbuhan ekonomi).

Untuk tahun 2019 ini, Kementerian Ketenagakerjaan menaikkan UMP sebesar 8,03%. Kenaikan itu dihitung dari formula angka inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Tahun ini sendiri inflasi nasional sebesar 2,88% ditambah pertumbuhan PDB sebesar 5,15%.


Respons TKN

Menanggapi hal tersebut anggota Tim Kampanye Nasional Capres 01, Joko Widodo, Hendrawan Supratikno menilai Rizal Ramli masih 'romantis' dengan pemikiran Alan Greenspan mantan Gubernur Bank Sentral Amerika yang menyebutkan adanya zaman keemasan ekonomi.

"Itu pak Rizal Ramli terlalu romantisme, dia masih membayangkan sama zaman yang 10-20 tahun lalu yang disebut sama Alan Greenspan, mantan Gubernur Bank Sentral Amerika yang legendaris itu zaman keemasan ekonomi," ungkap Hendrawan kepada detikFinance, Rabu (1/5/2019).

Hendrawan menjelaskan pemikiran seorang Alan Greenspan menyebutkan bahwa ada dekade pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan, namun dekade itu telah berakhir. Cina saja disebutkan Hendrawan telah turun jauh pertumbuhan ekonominya, dari 12% menuju hanya 6%.

"Jadi Alan Greenspan tulis buku The Great Moderation, dimana ada dekade pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan. Sekarang nggak bisa lho udah modern, Tiongkok yang 12% aja tinghal 6%," kata Hendrawan.

Meski begitu, Hendrawan menyebutkan bahwa pemerintah tidak serta merta menyerah pada keadaan. Dia mengatakan pemerintah masih mendorong pertumbuhan ekonomi, hanya saja untuk menjadi sementereng dahulu sudah tidak bisa.

"Kita tetep serius dorong pertumbuhan ekonomi, tapi faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi di masa lalu itu udah nggak ada. Dia itu terlalu romantis sama pemikiran Alan Greenspan," kata Hendrawan.

Mengenai aturan kenaikan buruh, Hendrawan mengatakan biar lah diserahkan ke pemerintah dalam menggodoknya. Setidaknya, kata Hendrawan, presiden sudah mengatakan siap merevisinya, hal tersebut merupakan komitmen untuk tingkatkan kualitas upah para buruh.

"Biar nanti ada yang godok lah, tapi intinya komitmen untuk tingkatkan para pekerja itu ada. Sudah disampaikan juga kan dari Presiden mau direvisi, ya ditunggu saja lah," kata Hendrawan. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed